Umat Islam Terpecah 72 Golongan

March 30th, 2008 by kekerasan

Imam Mahdi dan Al-Masih Sudah  Sangat Diperlukan 

 

Seorang berkebangsaan Arab  bertanya kepada pemimpin Ahmadiyah di London.
Pertanyaannya adalah, umat Islam menjadi terpecah disebabkan kedatangan
Mirza Ghulam Ahmad dan Ahmadiyah. Al-Quran menyebutkan, umat Islam
adalah satu Ummah dan Al-Quran adalah kitab Syariah yang terakhir dan
sempurna, dan karenanya mengapa diperlukan lagi adanya nabi?

 

Penjelasan dan jawaban Pimpinan  Ahmadiyah Hazrat Mirza Tahir Ahmad sebagai berikut:

 

Sebelum
membahas pertanyaan mengapa diperlukan adanya nabi, marilah kita
kembali sebelum ada seseorang mendakwakan diri menjadi nabi ummati.
Sekarang mari kita bertanya apakah ummah memang satu sebelum ia
men-dakwakan diri. Bukankah Al-Quran dan hadits yang ada sama dengan
Al-Quran dan hadits yang ada sejak Rasulullah Saw., Namun ummah telah
terpecah menjadi 72 golongan, apakah Anda menyebutnya satu ummah atau
memilih untuk menyebutnya 72 ummah, sepenuhnya terserah kepada Anda,
namun yang benar adalah bahwa telah terjadi perpecahan dan perpecahan
itu terjadi bukan disebabkan oleh adanya nama-nama melainkan disebabkan
oleh adanya perbedaan pandangan dan konsep. 72 golongan Islam memiliki
perbedaan pandangan yang sedemikian rupa mengenai Al-Quran yang sama
dan mengenai hadits yang sama sehingga orang yang memiliki pikiran
jernih, mereka (72 golongan) tidak lagi dapat disebut satu ummah.

 

Hari
ini pun, lupakanlah untuk sementara waktu mengenai Ahmadiyah dan apa
missinya, marilah kita membahas pandangan golongan Syiah. Mereka
beriman kepada Al-Quran dan mereka beriman kepada hadits Rasulullah
Saw. Namun mereka pun berkeyakinan bahwa tiga khalifah Islam yang
pertama adalah perampas hak orang lain dan bukan khalifah yang benar.
Rasulullah Saw., menurut orang-orang Syiah, setelah beliau wafat hanya
meninggalkan sepuluh orang suci. Sisanya semuanya munafik dan mereka
yang Anda sebut dan kami juga meyakininya sebagai khalifah yang benar,
menurut kepercayaan Syiah adalah para Raisul Munafiqin (Pemimpin
orang-orang munafik). Sekarang, tuduhan ini diterima baik oleh
orang-orang Muslim dan inilah yang mereka sebut sebagai satu Islam.

 

Sekarang
mari kita mempelajari sekte Deobandi. Mereka meyakini bahwa sekte
Barelwi adalah orang-orang musyrik. Sekte Deobandi memegang kepercayaan
bahwa orang-orang yang berkeyakinan bahwa Rasulullah Saw. memiliki
kehidupan yang abadi dan maha hadir seperti halnya Allah Ta’ala adalah
orang-orang musyrik tingkat pertama dan tidak dapat diterima di dalam
lingkungan Islam. Salah seorang dari pemimpin Deobandi memberitahukan
kepada kami dan berkeras bahwa kita harus percaya bahwa semua
orang-orang Barelwi setelah mereka meninggal, ketika mereka datang ke
‘Khausa Kausar’ mereka akan diperintahkan untuk pergi dan meninggalkan
tempat itu seperti seseorang yang mengusir dan menghalau anjing pergi.
Rasulullah Saw. menurut mereka, akan berkata kepada orang-orang
Barelwi, “Pergilah kalian, kalian pikir diri kalian Muslim, tetapi aku
mengetahui bahwa kalian bukanlah orang Muslim.”

 

Sekarang
sejauh hubungannya dengan orang-orang Barelwi yang juga termasuk ke
dalam ‘ummah yang satu’ dan kita juga beriman kepada Al-Quran yang sama
dan hadits yang sama, namun mereka berpendirian bahwa semua orang-orang
Wahabi, golongan yang menyebut dirinya mayoritas di Saudi Arabia,
Ahli Hadits dan Deobandi semuanya adalah pakka kafir (kafir mutlak),
sedemikian rupa, sehingga jika seseorang tidak percaya bahwa Golongan
Wahabi, Ahli Hadits dan Deobandi kafir, maka ia sendiri menjadi kafir.
Satu dari pemimpin terkenal Barelwi menjelaskan dalam bukunya ‘Hisamtil
Harmain’, bahwa jika kalian sembahyang di belakang orang Deobandi,
Wahabi, Ahli Hadits, Chakralwi, Syiah, Qadiani, dan lain-lain. Kalian
akan menjadi kafir dan jika kalian mengijinkan mereka sembahyang di
belakang kalian, kalian pun akan menjadi kafir. Dan jika kalian menikah
dengan mereka dan jika mereka menikah dengan kalian, kalian akan
menjadi kafir. Sedemikian rupa, sehingga ia menjelaskan jika mereka
menikah di antara mereka sendiri pun, pernikahan itu menjadi tidak syah
menurut hukum Islam.

 

Jadi
demikianlah keadaan yang ada sebelum kedatangan Almasih yang
dijanjikan, Mirza Ghulam Ahmad, dan sekarang pun masih demikian. Jadi
marilah kita kemukakan lagi pertanyaannya. Apakah itu yang disebut satu
Islam? Apakah demikian keadaannya pengikut dan anggota Ummah yang satu?

 

Tahukah Anda apa yang terjadi di    Pakistan
setelah kami (orang-orang Ahmadi) dideklarasikan sebagai non Muslim dan
setelah kami dirampas haknya untuk me-nyebut diri kami Muslim. Apakah
Anda sadar bahwa telah terjadi peperangan antara Sekte Barelwi dan
Sekte Deobandi dan mereka menyebarluaskan pamflet-pamflet yang isinya
masing-masing saling memfatwakan kafir dan bukan Islam.

 

Jadi
jika demikianlah keadaan Ummah yang satu yang menjadi pecah oleh
kedatangan Masih Mau’ud a.s. maka tidak ada masalah yang terjadi.
Mengapa Jemaat Ahmadiyah harus nampak seperti golongan yang paling
tidak dapat diterima di antara umat Islam.

 

Sekarang marilah kita bahas  pertanyaannya secara prinsip.

 

Al-Quran
adalah satu, dan tanpa di-ragukan telah sempurna. Hadits Rasulullah
Saw. adalah final dan kedua-duanya terus menerus menjadi Kalimat yang
harus diterima, yang harus diimani, yang harus diikuti sampai hari
kiamat. Namun Rasul kita, meskipun beliau mengetahui hal ini bahwa
Kitab Suci sudah sempurna dan beliau adalah Nabi yang terakhir hingga
hari kiamat, beliau sendiri menubuatkan bahwa akan tiba masanya ketika
Imam Mahdi akan datang dari sisi Allah dan diangkat oleh Allah.
Sekarang marilah kita ajukan satu pertanyaan yang tulus – mengapa
diperlukan Imam Mahdi dan mengapa Imam Mahdi harus diterima kita semua,
sementara Al-Quran sudah sempurna; hadits sudah ada dan isi dari
kitab-kitab ini sudah final. Namun menurut Rasulullah Saw., kalian
memerlukan Imam Mahdi dan Anda sedang menunggu-nunggu Imam Mahdi.
Mengapa kita memerlukan Imam Mahdi dan apakah kedudukan Imam Mahdi
nantinya? Saya yakin Anda tidak pernah berpikir ke arah ini. Jika Anda
memikirkannya sekarang, Anda akan terkejut bahwa kepercayaan Anda dan
kepercayaan kami secara mutlak sama. Tidak setitikpun ada perbedaan
dapat dibuktikan antara kepercayaan kami dan Anda. Anda percaya bahwa
Imam Mahdi akan ditunjuk Allah Ta’ala dan tidak akan dipilih oleh
masyarakat Islam. Tidak ada seorangpun Muslim yang percaya bahwa Imam
Mahdi tidak akan dipilih Allah tetapi akan dipilih oleh masyarakat
luas. Jika ada seorang Muslim yang berkepercayaan demikian, seluruh
ulama dunia akan memfatwakan bahwa orang itu kafir, karena ia memegang
keyakinan yang bertentangan dengan seluruh umat Islam. Jadi Imam Mahdi
adalah satu pribadi yang akan datang, jika hingga sekarang ia belum
datang, yang akan langsung diangkat dan ditunjuk oleh Allah. Namun
demikian, ini adalah bagian dari keyakinan kita. Bagian selanjutnya
dari keyakinan ini adalah bahwa siapa saja yang menolaknya akan menjadi
kafir. Apakah pernyataan ini tidak benar? Seluruh ummah memiliki
keyakinan terhadap dua hal ini, kecuali Chakralwi dan Ahli Hadits,
tetapi pada saat ini saya tidak membahas mereka secara spesifik. Saya
mengarahkan hal ini kepada ummah di luar mereka. Mereka berkeyakinan,
Imam Mahdi akan ditunjuk langsung oleh Allah sendiri dan tidak akan ada
pemilihan. Mereka juga percaya Imam Mahdi, sekali beliau ditunjuk maka
ia akan menjadi imam seluruh ummah dan untuk sekalian alam dan siapa
saja yang mendustakan beliau dan siapa saja yang menentang beliau, akan
menjadi keluar dari Islam. Sekarang, dengan mengingat dua hal penting
ini di dalam pikiran kita, sebutkan kepada saya (jika ada) contoh satu
orang, siapa saja, setelah memiliki dua sifat ini dan dua potensi ini,
tetapi ia bukan nabi. Sesungguhnya, tidak ada seorang manusia pun di
dunia ini datang membawa dua kualitas ini tetapi bukan nabi.
Sesungguhnya, tidak seorangpun di dalam sejarah semua agama-agama yang
dapat disebutkan bahwa ada seseorang ditunjuk langsung oleh Allah namun
untuk beriman kepadanya tidak diwajibkan. Bacalah ayat Al-Quran yang
membahas mengenai iman dimana dijelaskan kepada siapa kalian harus
beriman – Amantu billahi wa malaikatihi wa kutubihi wa rusulihi wa bil
yaumil akhiri wa bil qadri khairihi wa syarrihi. Dari enam rukun
tersebut hanya ada satu yang berhubungan dengan manusia dan itu adalah
nabi-nabi. Jadi dari antara manusia, kecuali kepada nabi-nabi, Al-Quran
tidak membebankan kewajiban kepada Anda untuk beriman kepada siapa pun,
hanya kepada para nabi Allah kita harus beriman. Jadi menurut Al-Quran,
hanya kepada nabi-nabi Allah wajib bagi kita beriman, kalau tidak kita
akan menjadi kafir. Oleh karena itu, dari antara manusia kecuali kepada
para nabi kita tidak diwajibkan untuk beriman kepada siapapun. Carilah
kalau ada di dalam Al-Quran ayat-ayat yang mewajibkan kepada kita untuk
beriman kepada seseorang selain kepada para nabi. Namun pandangan yang
umum diterima ini Anda sendirilah menisbahkan-nya kepada Imam Mahdi.
Siapa saja yang ditunjuk langsung oleh Allah maka dia adalah seorang
nabi. Jadi Anda terus mengatakan bahwa Anda berkeyakinan tidak akan
pernah datang nabi lagi meskipun seorang nabi pengikut, sementara Anda
beriman kepada Imam Mahdi dan yakin bahwa Allah sendiri yang akan
menunjuk dan mengangkatnya. Dengan demikian Anda sesungguhnya menentang
keyakinan Anda sendiri. Sebenarnya, begitu Anda percaya kepada
kedatangan Imam Mahdi berarti Anda percaya kepada kedatangan seorang
nabi ummati. Jadi sekarang hanya tinggal pertanyaan tentang siapakah
orangnya. Sejauh yang berkenaan dengan kepercayaan, setiap orang yang
jujur dan benar pasti akan setuju dan menerima bahwa konsep mengenai
Imam Mahdi adalah sesuai sekali dengan konsep yang kami sebut sebagai
suatu kenabian ummati. Baik Anda menyebutnya nabi pengikut atau bukan,
baik Anda menyebut-nya manusia atau bukan, hal itu tidaklah penting.
Yang penting adalah definisinya. Jika Anda memanggil manusia anjing, ia
akan tetap manusia. Jika seseorang memiliki kualitas Imam Mahdi maka ia
akan tetap menjadi Nabi, bagaimanapun Anda me-manggilnya, meskipun jika
Anda tidak beriman kepadanya, ia akan tetap seorang nabi.

 

Kemudian
Anda percaya, Nabi Isa akan datang untuk kedua kalinya. Dalam
kedudukannya sebagai apa ia akan datang lagi? Akankah ia meninggalkan
pangkat kenabiannya di atas langit, jika benar ia akan turun dari
langit? Tentu saja tidak. Karena semua ulama Muslim percaya dan
memfatwakan bahwa siapa saja yang percaya dan mengatakan ketika ia akan
datang lagi ia akan meninggalkan pangkatnya di langit dan akan datang
sebagai seorang biasa, adalah seorang pendusta dan berada di luar dan
keluar dari batas-batas Islam. Ini adalah ke-percayaan yang umum
dipegang setiap ulama Islam, baik ia Ahmadi maupun bukan. Dasar dari
keyakinan ini adalah, Rasul kita Saw. sendiri menubuatkan, ketika Nabi
Isa a.s. datang lagi ia akan datang sebagai seorang nabi. Di dalam
kitab Hadits Muslim Rasulullah Saw. sendiri menyebut Nabi Isa empat
kali bahwa beliau adalah Nabiyullah pada kedatangannya yang kedua kali.
Dengan demikian, sesuai dengan Hadits Muslim, Anda juga percaya Almasih
akan datang dan ia datang sebagai seorang NABI… Sekarang, bersikaplah
sebagai manusia yang memiliki akal yang waras dan bersikap jujur. Anda
mengeluarkan kami dari Islam karena kami percaya Almasih Mau’ud a.s.
adalah seorang Nabi, sementara Almasih yang kalian tunggu-tunggu itu
sendiri adalah Nabi. Jadi jika Masih Mau’ud a.s. berkata, ‘Aku bukan
Nabi. Rasulullah Saw. akan memfatwakan Masih Mau’ud seorang pendusta,
karena beliau Rasulullah Saw. akan bersabda, ‘Tidakkah engkau membaca
Hadits Muslim? Saya sendiri telah menyebut Almasih yang akan datang di
dalam umat ini sebagai Nabi.’ Jadi jika ada seseorang mendakwa-kan diri
bahwa ia adalah Almasih yang ditunggu-tunggu dan ia bukan Nabi, maka ia
pasti seorang pendusta. Anda tidak mungkin membuktikannya lain. Namun,
menurut akal Anda, jika ada seseorang mendakwakan diri sebagai Almasih
dan berkata bahwa ia Nabi, ia juga seorang pendusta. Jadi Almasih yang
bagaimanakah yang dapat datang ke dalam umat ini. Dari satu sudut
pandang ia adalah seorang pendusta, karena ia berkata bahwa ia adalah
sang Almasih dan seorang Nabi tapi Anda mengatakan bahwa pintu kenabian
telah berakhir dalam bentuk apapun. Dan jika ia berkata, baiklah, bahwa
ia adalah Almasih namun bukan Nabi maka Anda akan mengatakan bahwa ia
adalah pendusta, karena Rasulullah Saw. mengatakan bahwa Almasih yang
akan datang adalah seorang Nabi.

 

Jadi
apa solusinya? Satu-satunya solusi yang dikemukakan ulama-ulama Muslim
kepada saya bahwa ia adalah seorang Ummati, benar seorang Nabi tetapi
nabi ummati.

 

Dengan
kedudukannya sebagai Nabi Ummati ia tidak menentang kedudukan Nabi
Muhammad Saw. sebagai Nabi penutup – dan inilah sebenarnya apa yang
kami yakini. Kami tidak memegang kepercayaan tentang bentuk kenabian
baru (Kenabian yang datang di luar umat Islam dan membawa syari’at
baru. Kami memiliki keyakinan tentang seorang Nabi Ummati, Nabi yang
berada di bawah syari’at nabi sebelumnya, sebagaimana dinubuatkan di
dalam Al-Quran, Surah An-Nisa (3:70-71):

 

“Dan
barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka mereka akan
berada di antara mereka yang Allah Ta’ala telah memberi nikmat, yaitu,
nabi-nabi, syuhada-syuhada, shiddiq-shiddiq, dan orang-orang shalih,
dan betapa mereka itu sebaik-baiknya sahabat. Ini adalah karunia dari
Allah; dan cukuplah bagi Allah Yang Maha Mengetahui.’

 

Jadi
siapa saja yang akan menerima ganjaran Rasulullah Saw. menurut ayat
ini, ia harus tunduk kepada Rasulullah Saw.. Begitu ia menjadi
pengikut, menurut ayat ini tidak akan ada ganjaran yang akan
dimahrumkan darinya, baik yang pertama maupun yang terakhir, karena
semua ganjaran itu disebutkan secara berurutan, yaitu, nabi-nabi,
shidiq-shidiq, syuhada dan solihin – jadi kepercayaan Anda dan
kepercayaan kami mengenai kenabian benar-benar sama. Terapkan hal yang
sama kepada Imam Mahdi, yang Anda yakini akan datang; maka keyakinan
kami mengenai Imam Mahdi, dan keyakinan Anda benar-benar sama. Ia
haruslah seorang nabi pengikut. Terapkan sekarang kepada Almasih yang
dijanjikan. Sekali lagi di sini pun kepercayaan kita mengenai Almasih
yang dijanjikan seratus persen sama. Jadi, hanya menyebut seorang nabi
bukan nabi, tidak bisa membebaskan Anda dari dosa atau apapun,
sesungguhnya hal ini malah menjadikan Anda seorang yang berdosa, karena
beriman kepada seseorang yang akan memiliki kedudukan tertentu; Anda
tetap tidak setuju untuk memanggil-nya dengan kedudukan itu yang Anda
sendiri meyakininya – ini adalah satu pelanggaran. Dan kami tidak
melakukan pelanggaran itu; kami bersikap jujur, kami berbicara
terus-terang. Jadi pertanyaannya sederhana sekali, yakni, Apakah Imam
Mahdi sudah datang atau belum. Dan ini adalah pertanyaan yang adil.
Anda me-manggil kami non-Muslim karena kami berkeyakinan kepada seorang
nabi baru. Jika kami menjadi kafir karena hal ini, karena keyakinan
Anda sama dengan kami, maka setiap orang dari antara kita adalah kafir,
tidak ada seorang Muslim pun lagi yang tertinggal. Jadi, ini adalah
satu aspek yang harus Anda ingat selalu.

 

Aspek
yang kedua adalah Al-Quran sudah sempurna. Sesungguhnya Al-Quran itu
tidak berubah. Namun demikian, maknanya telah berubah. Ayat yang sama
telah ditafsirkan begitu berbeda seolah-olah berasal dari kitab yang
berbeda. Contohnya, Anda mungkin pernah men-dengar mengenai kontroversi
apakah nabi kita Rasulullah Saw. Nur atau Basyarnur atau manusia. Dan
kata yang sama di-pergunakan oleh kedua belah pihak untuk mendukung
pendirian mereka. (Surah 18:111).

 

“Katakanlah,
‘Sesungguhnya aku adalah manusia seperti kamu; tetapi aku telah
menerima wahyu bahwa Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa. Maka barangsiapa
yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah ia mengerjakan
amal shaleh, dan tidak menyekutukan sesuatu kepada Tuhannya.’”

 

Sekte
Barelwi menyimpulkan ayat ini bahwa Rasulullah Saw. bukanlah manusia
dan Golongan Deobandi menyimpulkan beliau adalah Basyar. Ayat-ayat yang
sama di dalam Al-Quran telah ditafsirkan dengan cara yang begitu
berbeda sehingga membuat orang terkejut dan terkesima, tidak tahu apa
yang harus diperbuat dan apa yang tidak boleh dilakukan. Contohnya,
Golongan Syiah menyimpul-kan dari ayat (9:40) makna yang sama sekali
berbeda:

 

“Jangan khawatir, sesungguhnya  Allah bersama kita.”

 

Mereka
berkata karena Hazrat Abu Bakar r.a. berada dalam keragu-raguan, maka
Rasulullah Saw. harus bersabda, menurut Allah, la Takhzan, dan hal ini
memperlihatkan bahwa beliau (naudzubillah) adalah seorang munafik. Dan
orang yang lain lagi mengatakan bahwa betapa indahnya ayat ini
mendukung Abu Bakar r.a.. Rasulullah Saw. bersabda kepada beliau bahwa
ia ada di antara mereka. “Allah tidak saja ada bersama-sama denganku
tetapi bersama engkau juga.”

 

Makna
yang mana yang Anda sukai, boleh Anda terima, tetapi makna yang kedua
adalah pegangan kami. Sejauh hubungannya dengan kontroversi itu, ia
terus berjalan. Jadi adanya satu Kitab tidak menutup kemungkinan adanya
perbedaan pendapat dalam hal-hal yang fundamental. Dan perbedaan itu
terjadi pada hal-hal yang sungguh memuakkan. Contohnya, ada ayat di
dalam Al-Quran, menjelaskan situasi bagaimana Rasulullah Saw.
diperintahkan untuk menikahi istri anak angkatnya yang telah
diceraikan, yaitu perceraian Hazrat Zaid. Zaid adalah anak angkat
Rasulullah saw. Dan wanita itu telah bercerai dari Zaid. Al-Quran
menjelaskan bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang ada di dalam hatimu.
Dan Allah mengharuskan beliau menikah (Surah 33:38-39).

 

Tahukah
Anda bagaimana para mufasiirin terdahulu menafsirkan ayat ini? Bacalah
Tafsir Itqan, bacalah Kitab Jalalain, bacalah kitab tafsir lainnya dan
jika Anda memiliki kecintaan yang sejati kepada Rasulullah Saw. Anda
akan muak membaca apa yang mereka katakan. Mereka mengatakan bahwa
Allah Ta’ala berkata kepada Rasulullah Saw. yakni ketika beliau melihat
Hazrat Zainab, sebetik cinta muncul di dalam hati beliau dan khawatir
jika orang lain mengetahui hal itu, dan beliau merasa malu. Tetapi
Allah telah mengetahuinya, karena Dia Maha Mengetahui. Jadi mengetahui
ke-adaan hatinya, Dia mengijinkan Rasulullah untuk menikah dan berkeras
agar beliau menikah. Suatu hal yang sungguh memalu-kan untuk dikatakan.
Mereka berkata dan mereka membesar-besarkan hal ini dengan menggunakan
hadits-hadits palsu bahwa Rasulullah Saw. suatu ketika datang ke rumah
Hazrat Zaid dan tanpa mengetuk pintu beliau langsung masuk. Hazrat
Zainab waktu itu dalam keadaan di mana beliau tidak dapat dengan segera
menutupi tubuh beliau dan Rasul kita Saw. (nauzubillahi min dzalika)
melihatnya dalam keadaan seperti itu dan jatuh cinta. Hal ini bisa saja
terjadi pada diri ulama-ulama biasa, tapi tidak mungkin terjadi pada
diri Nabi kita Rasulullah Saw.. Rasulullah saw. sendiri bersabda (Surah
24:28-29):

 

“Wahai
orang-orang yang beriman! Jangan-lah kamu memasuki rumah yang bukan
rumahmu sendiri sehingga kamu meminta izin dan mengucapkan salam kepada
peng-huninya. Hal itu lebih baik bagi kamu supaya kamu memperhatikan.
Dan jika kamu tidak menemukan siapapun di dalamnya maka janganlah kamu
memasukinya sehingga kamu diberi izin. Dan jika dikatakan kepada-mu
‘kembalilah,’ maka kembalilah; hal itu lebih suci bagimu. Dan Allah
Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

 

Janganlah
masuk pintu rumah siapa saja tanpa memberi salam dan minta izin. Beliau
diajarkan mengenai hal ini oleh Allah Ta’ala sendiri, sebagaimana kita
baca di dalam surah As-Shaf (61:3-4):

 

“Hai
orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu
lakukan? Sesungguhnya sangat dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan
apa yang tidak kamu kerjakan.”

 

Para
mufasir ini mengatakan Rasulullah Saw. melarang orang lain untuk masuk
rumah meskipun keluarganya sendiri tanpa mengucapkan dan meminta izin
lebih dulu, namun beliau sendiri melaku-kan hal demikian, dan ketika
beliau melihat Hazrat Zainab, beliau jatuh cinta. Betapa memalukan –
beliau adalah wujud yang begitu bertaqwa; tidak mungkin pikiran kotor
seperti itu memasuki hati beliau. Rasulullah Saw. sendiri yang telah
berkata bahwa setan beliau telah menjadi Muslim.

 

Sekarang
marilah kita lihat Masih Mau’ud a.s., yang telah kami terima dan yang
kepadanya Anda merasa bangga memanggil beliau dengan nama buruk dan
menyebut beliau seorang pendusta, bagaimana beliau menafsirkan ayat
tersebut. Beliau bersabda bahwa Allah mengetahui apa yang ada di dalam
hati Rasulullah Saw. dan mengetahui bahwa penderitaan ini begitu
menghimpit hati beliau. Beliau merasa sedih dan begitu merasa sedih
mengenai ide menikahi istri anak angkatnya yang telah diceraikan. Namun
Allah Ta’ala memberitahu Rasulullah Saw. agar mem-berikan contoh dan
untuk memberitahukan kepada masyarakat bahwa kebiasaan adopsi sejak
saat ini telah dicampakkan untuk selamanya. Dan Allah berfirman bahwa,
meskipun ini menjadi pengorbanan dari pihak beliau, beliau maju terus
dan melaksanakannya.

 

Jadi
cara yang paling tepat untuk menilai Masih Mau’ud a.s. adalah dengan
cara mempelajari buku-buku beliau dan menemukan, di mana telah terjadi
perbedaan pendapat di antara golongan dan para ulama ummah, jika beliau
mem-berikan keputusan, apakah menurut pikiran dan kecenderungan Anda
sendiri, keputusan beliau lebih tepat dari yang lain atau tidak. Jika
Anda membaca dan mempelajari Hazrat Masih Mau’ud [Mirza Ghulam Ahmad
a.s.] dengan cara seperti ini hanya setelah itu Anda akan mengerti
makna kedatangannya, dan hanya setelah itu Anda akan mengerti makna
kata “Hakaman Adalan” Masih Mau’ud a.s. duduk di atas kursi pemberi
keputusan dan seluruh keputusan beliau adalah benar. Itulah
keindahannya dan itulah alasan mengapa beliau harus datang. Beliau
datang tidak untuk menambah-nambah Al-Quran, tetapi untuk mengembalikan
apa yang telah dihilangkan dalam penafsiran Al-Quran. Inilah arti dari
Hakaman Adalan dan inilah dasarnya mengapa beliau harus datang.

 

Jadi, ada begitu banyak contoh  yang lain yang dapat dikutip sebagai bukti dan mendukung keyakinan  saya.

 

Adalah
Allah yang telah memutuskan di antara kita dan Anda sejak berdirinya
Jemaat Ahmadiyah. Setiap kali peng-aniayaan ditimpakan kepada Ahmadiyah
dan orang-orang Ahmadi, dan setiap kali setelah adanya ujian
penganiayaan, Ahmadiyah maju bertambah besar dan luas, dan tidak pernah
berkurang. Jadi, semakin besar penganiayaan semakin besar kabar suka
diberikan kepada kami. Kami tidak merasa takut sedikitpun. Apa yang
terjadi pada tahun 1933 dan 1934 serta 1953 dan apa yang terjadi tahun
1974. Setelah setiap penganiayaan ini Jamaah Ahmadiyah keluar sebagai
pemenang dalam arti Jamaah ini menambah pengikut-nya lebih banyak dan
lebih cepat dari sebelumnya. Jamaah Ahmadiyah mem-bengkak dalam jumlah,
kedudukan dan pengaruh. Jadi, satu Jamaah yang memiliki takdir seperti
ini, adalah takdir yang hanya merupakan takdir dari nabi-nabi yang
benar. Bagaimana mungkin Jamaah seperti itu ditakuti-takuti oleh
mayoritas? Apa dan siapakah yang mayoritas itu? Jika mayoritas itu
tidak benar dalam pandangan Allah, apa artinya mayoritas seperti itu.
Banyak mayoritas seperti itu, ditolak Allah sebelumnya. Setiap nabi
telah disebut dan difatwakan kafir oleh masyarakat mayoritas di
masanya. Ambil satu contoh jika ada nabi yang tidak difatwakan
pen-dusta oleh mayoritas di zamannya. Sekarang-pun Islam tidak
menduduki kedudukan mayoritas. Sekarangpun, mereka yang me-nentang
Rasulullah Saw. dan memfatwakan beliau sebagai pendusta, menduduki
mayoritas yang besar dibandingkan dengan mereka yang beriman kepada
beliau. Jadi me-mutuskan dengan suara mayoritas, hendaklah Anda
terlebih dahulu meninggalkan Islam baru menyerang Ahmadiyah, karena
mayoritas masyarakat dunia menentang Islam. Bahkan golongan Atheis
lebih besar dari Islam, dan paling tidak orang-orang Atheis bersatu
dalam keyakinan mereka, sementara umat Islam tidak bersatu dalam
keimanan mereka. Semua golongan Islam bertentangan satu sama lain
secara diametrikal, sehingga jika satu golongan benar, golongan yang
lain pasti salah, dan Anda telah berdusta, saya mohon maaf untuk
mengatakannya, dengan menyebut mereka Muslim sepanjang zaman. Hanya
dalam melakukan permusuhan dan peng-aniayaan terhadap Ahmadiyah, Anda
duduk bersama melupakan semua perbedaanperbedaan kalian yang sangat
fundamental, dan mengeluarkan fatwa bahwa semua orang adalah Muslim
(kecuali Ahmadiyah). Siapa saja menyebut Abu Bakar Raisul Munafikin,
juga Muslim. Siapa saja menyebut umat ini kafir sekafir-kafirnya, juga
Muslim. Siapa saja yang percaya pada kekekalan Rasulullah Saw., juga
Muslim. Siapa saja yang berkata bahwa mereka yang percaya kepada hal
itu mereka kafir dan penyembah berhala, juga Muslim. Mereka yang ruku’
dan sujud di kuburan, juga Muslim dan mereka yang mengatakan bahwa itu
sebenarnya adalah penyembahan berhala, juga Muslim.

 

Jadi,
betapa indahnya agama Islam. Segala sesuatu boleh masuk dan semuanya
dapat diterima, hingga yang saling bertentangan secara diametrikal dan
berbeda secara fundamental. Jika itu yang dikatakan Islam, ia bukanlah
agama; karena tidak memiliki kata hati; dan tidak memiliki rasa
kemanusiaan. Jika seseorang itu memiliki jiwa kemanusiaan dan jujur,
hendaklah ia bersikap jujur kepada diri-nya sendiri. Anda memiliki hak,
tentu, untuk menyebut kami non-Muslim. Jika Anda yakin, tapi panggil
juga yang lain sebagai non-Muslim, karena perbedaan mereka dengan Anda
lebih besar dalam sensitifitas dan bobotnya, daripada perbedaan Anda
dengan kami.

 

AMA, 26.07.00, A Question Answered, Darut Tabligh  Islami Publication, P.O. Box  4195 Cape  Town .

Nabi palsu tidak akan mendapat kelonggaran

March 30th, 2008 by kekerasan

Sudah merupakan kaidah Ilahi bahwa Tuhan
tidak akan memberikan kelonggaran atau peluang kepada seorang nabi
palsu. Orang seperti itu akan langsung dicengkeram dan dihukum.
Berkaitan dengan itu maka kita patut menghormati dan menerima sebagai
suatu kebenaran semua mereka yang pernah menyatakan diri sebagai Nabi
pada masa apa pun, yang pengakuannya telah diteguhkan dan agamanya
telah berkembang meluas dalam jangka waktu panjang. Misalnya pun kita
menemukan kesalahan dalam kitab suci atau agama mereka, atau juga
kelakuan yang salah di antara para penganutnya, jangan sampai kita
menimpakan kesalahan tersebut di pundak para pendiri agama-agama
tersebut. Pelencengan isi kitab suci bisa saja terjadi, begitu pula
munculnya kesalahan penafsiran, tetapi tidak mungkin terdapat orang
yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah s.w.t. dengan mengaku
sebagai seorang Nabi, menyatakan ucapan karangannya sendiri sebagai
firman Tuhan tetapi Dia tetap memberikan peluang atau kelonggaran
kepadanya sebagai seorang muttaqi dan mengaruniakan kepadanya berkat
berupa penerimaan dari orang banyak. (Tohfah Qaisariyah, sekarang
dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 12, hal. 258).

* * *

Mungkinkah
kepada seorang pendusta diberikan peluang untuk menyebar-luaskan
kedustaannya sebagaimana Allah s.w.t. menganugrahkan kepada para
penerima wahyu hakiki? Tidakkah Tuhan telah menyatakan bahwa mereka
yang berdusta mengaku telah menerima wahyu dan para pendusta akan
dicengkeram oleh-Nya? Kitab Taurat menyatakan kalau nabi palsu akan
terbunuh dan Injil pun mengemukakan bahwa seorang pendusta akan segera
dipunahkan dan pengikutnya bertemprasan dikocar-kacirkan.

Apakah
ada satu saja contoh bahwa seorang pendusta yang mengaku sebagai
penerima wahyu yang diberikan peluang sepanjang jangka waktu yang telah
diberikan kepadaku sejak pernyataan yang aku ajukan bahwa aku adalah
seorang yang menerima wahyu Ilahi? Jika memang ada, silakan ajukan.

 
Aku
menyatakan dengan sesungguhnya bahwa sejak dunia terkembang belum
pernah ada kejadian demikian. Aku tidak ada mengatakan bahwa seorang
penyembah berhala, atheis atau seorang yang mengaku sebagai tuhan,
tidak akan berumur panjang, karena kesalahan-kesalahan seperti itu baru
akan dihisab nanti di akhirat. Yang aku nyatakan disini adalah mereka
yang berdusta mengaku sebagai penerima wahyu Ilahi, mereka inilah yang
akan dicengkeram dan umurnya akan pendek. Kitab Taurat, Injil mau pun
Al-Qur’an membenarkan hal itu, sebagaimana halnya juga penalaran. Lawan
yang mana pun tak mungkin bisa mengemukakan contoh meski satu yang
bertentangan dengan sejarah. (Ayyamus Sulh, Qadian, Ziaul Islam Press,
1899; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 14, hal. 267-268,
London, 1984).

piala dunia tidak disiarkan di tv swasta

March 30th, 2008 by kekerasan

kemarin saya baru dapet kabar dari teman saya, kalau piala dunia 2010 tidak akan disiarkan tv swsta di Indonesia, karena astro tv telah menandatangani kontrak untuk mengambil hak siar piala dunia 2010, sama seperti sekarang ini, liga inggris hanya ditayangkan di astro saja, walaupun akhirnya salah satu tv swasta dapat menayangkan hanya 1 pertandingan liga Inggris.

walaupun dalam piala dunia nanti, astro akan memberikan paket2 yang menarik untuk berlangganan…ternyata astro tv terdapat di beberapa negara dunia seperti singapura dan Inggris, ternyata di Inggris pun hak siar pertandingan liga Inggris diambil astro, sama seperti di Indonesia….

astro menyebalkan…….

Kemuliaan akhlak Rasulullah saw

March 18th, 2008 by kekerasan

Nabi-nabi
dan para orang suci dibangkitkan Allah s.w.t. agar manusia bisa
mencontoh perilaku akhlak mereka serta membimbing manusia bersiteguh di
jalan yang benar sejalan dengan petunjuk Tuhan. Jelas bahwa mereka
selalu memperlihatkan sifat-sifat akhlak yang mulia pada saatnya yang
tepat sehingga bisa dicapai tingkat efektivitas yang terbaik. Sebagai
contoh, sifat memaafkan adalah suatu hal yang patut dipuji ketika ia
yang teraniaya lalu memiliki kekuatan untuk membalas dendam namun tidak
dilakukannya. Kesalehan adalah sifat yang baik kalau dilaksanakan
ketika seseorang memiliki segalanya untuk memuaskan dirinya.

Rencana
Tuhan berkaitan dengan para Nabi dan orang-orang suci adalah agar
mereka itu memperlihatkan dan menegakkan semua bentuk dari sifat-sifat
akhlak yang mulia. Guna memenuhi rencana demikian maka Allah s.w.t.
membagi kehidupan mereka dalam dua bagian. Bagian pertama kehidupan
mereka dilalui dalam kesengsaraan dan berbagai penderitaan dimana
mereka itu disiksa dan dianiaya, dimana melalui tahapan ini mereka akan
memperlihatkan akhlak luhur yang hanya bisa dikemukakan pada saat
keadaan sedang sulit. Bila mereka ini tidak diharuskan menjalani
kesulitan yang besar maka sukar untuk menegaskan bahwa mereka
benar-benar tetap setia kepada Tuhan-nya dalam segala kesulitan serta
tetap bersiteguh maju terus dalam upayanya. Mereka bersyukur kepada
Tuhan yang Maha Kuasa bahwa mereka telah dipilih-Nya sebagai sosok yang
patut teraniaya di jalan Allah.
Tuhan yang Maha Agung mendera
mereka dengan segala cobaan agar terlihat jelas bagaimana manifestasi
keteguhan hati dan kesetiaan mereka kepada Tuhan mereka. Dalam hal ini
sebagaimana dalam peribahasa, nyata bahwa keteguhan hati itu lebih
tinggi nilainya daripada mukjizat. Keteguhan hati yang sempurna tidak
akan terlihat jika tidak ada kesulitan besar yang dihadapi dan hanya
bisa dihargai jika orang tahu bahwa yang bersangkutan memang telah
mengalami goncangan yang dahsyat. Semua musibah tersebut merupakan
berkat ruhani bagi para Nabi dan orang-orang suci karena melalui hal
itulah sifat-sifat mulia mereka yang tidak ada tandingannya menjadi
nyata dan derajat mereka akan ditinggikan di akhirat.
Bila mereka
tidak ada mengalami cobaan yang berat maka mereka tidak akan memperoleh
berkat-berkat tersebut, tidak juga sifat mulia mereka menjadi tampak
kepada umat manusia. Keteguhan hati, kesetiaan dan keberanian mereka
tidak akan diakui secara universal. Mereka itu menjadi tiada tara dan
tanpa tandingan serta demikian berani dan sempurna sehingga
masing-masing dari mereka itu sepadan dengan seribu singa yang berada
dalam satu tubuh atau seribu harimau dalam satu kerangka. Dengan cara
demikian itulah kekuatan dan kekuasaan mereka menjadi suatu yang
diagungkan dalam pandangan manusia dan mereka mencapai tingkatan tinggi
dalam kedekatan kepada Allah s.w.t.
Bagian kedua dari kehidupan para
Nabi dan orang-orang suci adalah saat kemenangan, derajat mulia dan
kekayaan dilimpahkan kepada mereka dimana pada saat itu pun mereka akan
memperlihatkan akhlak mulia mereka yang memang efektif pada saat mereka
menggenggam kemenangan, kekayaan dan kekuasaan. Mengampuni mereka yang
tadinya menyiksa, bersabar hati terhadap para penganiaya, mencintai
musuh, tidak mencintai kekayaan atau bangga terhadapnya, membuka
gerbang berkat dan kemurahan hati, tidak menjadikan kekayaan sebagai
sarana pemuas diri, tidak menjadikan kekuasaan sebagai alat penindasan,
semuanya itu merupakan sifat-sifat mulia dengan persyaratan bahwa yang
bersangkutan memang sedang memiliki kekuasaan dan kekayaan. Para Nabi
dan orang-orang suci itu malah akan memperlihatkan semua sifat mulia
itu saat mereka telah memiliki kekuasaan dan kekayaan.
Kedua bentuk
sifat-sifat akhlak mulia tersebut tidak mungkin dimanifestasi¬kan tanpa
melalui tahapan kesulitan dan cobaan serta tahapan kekuasaan dan
kemakmuran. Kebijaksanaan yang sempurna dari Allah s.w.t. mengharuskan
bahwa para Nabi dan orang-orang suci diberikan kedua bentuk kesempatan
tersebut yang sebenarnya merupakan realisasi ribuan berkat. Hanya saja
urut-urutan dari kondisi demikian tidak akan sama bagi setiap orang.
Kebijakan Ilahi menentukan bahwa beberapa orang akan mengalami periode
kedamaian dan kenyamanan mendahului periode kesulitan, sedangkan pada
yang lainnya dimulai dengan periode kesulitan sebelum datangnya
pertolongan Tuhan. Dalam beberapa kejadian, kondisi demikian tidak
terlalu jelas perbedaannya sedangkan pada yang lainnya dimanifestasikan
secara sempurna.
Berkaitan dengan hal ini yang paling menonjol
adalah Hadzrat Rasulullah s.a.w. karena kedua kondisi itu dikenakan
secara sempurna atas wujud beliau sedemikian rupa sehingga sifat akhlak
beliau menjadi bersinar cemerlang laiknya matahari, dan semua itu
tercermin dalam ayat:
“Sesungguhnya engkau benar-benar memiliki akhlak luhur”. (S.68 Al-Qalam:5).
Jika
dinilai bahwa Hadzrat Rasulullah s.a.w. adalah sempurna di dalam kedua
bentuk sifat akhlak melalui pembuktian di atas, maka melalui itu
dibuktikan juga keluhuran akhlak para Nabi-nabi lainnya dan dengan
demikian telah meneguhkan Kenabian mereka, kitab-kitab yang mereka bawa
serta kenyataan bahwa mereka semua adalah kekasih Allah s.w.t. Pendapat
ini memupus keberatan sebagian orang akan akhlak Nabi Isa a.s. yang
dianggap tidak cukup sempurna menghadapi kedua kondisi tersebut. Memang
benar bahwa Nabi Isa a.s. menunjukkan keteguhan hati dalam keadaan
kesulitan, hanya saja bentuk kesempurnaan akhlak tersebut baru akan
terlihat sempurna jika saja pada saat itu Nabi Isa memperoleh kekuasaan
dan keunggulan di atas para penganiaya beliau dan beliau kemudian
mengampuni mereka dari lubuk hati yang paling dalam sebagaimana halnya
perlakuan Hadzrat Rasulullah s.a.w. terhadap penduduk Mekah saat kota
itu takluk kepada umat Islam. Penduduk kota Mekah memperoleh
pengampunan penuh kecuali beberapa orang yang ditetapkan Tuhan harus
menjalani hukuman karena kejahatan mereka yang luar biasa.
Hadzrat Rasulullah s.a.w. setelah mencapai kemenangan malah mengumumkan:
لا تثريب عليكم اليو م
“Tidak akan ada yang menyalahkan kalian pada hari ini.”.
Karena
adanya pengampunan demikian yang semula dianggap mustahil dalam
pandangan para musuh beliau, dimana tadinya mereka merasa patut dihukum
mati atas segala kejahatan mereka, maka beribu-ribu orang lalu baiat ke
dalam agama Islam dalam jangka waktu bilangan jam saja.
Keteguhan
hati Hadzrat Rasulullah s.a.w. yang diperlihatkan dalam jangka waktu
panjang di bawah penganiayaan mereka, di mata mereka menjadi cemerlang
bercahaya seperti matahari. Sudah menjadi fitrat manusia bahwa
keagungan dari keteguhan hati seseorang menjadi nyata saat yang
bersangkutan mengampuni para penganiayanya ketika ia kemudian
memperoleh kekuasaan di atas mereka. Karena itulah sifat luhur akhlak
Nabi Isa a.s. di bidang keteguhan, kelemah-lembutan dan daya tahan
tidak terlihat sepenuhnya dimana tidak jelas apakah keteguhan sikapnya
itu karena pilihan sendiri atau memang karena terpaksa. Nabi Isa a.s.
tidak sempat memperoleh kekuasaan di atas para penganiaya beliau
sehingga tidak bisa dibuktikan apakah beliau memang kemudian akan
mengampuni para musuhnya atau memilih mengambil pembalasan dendam atas
diri mereka itu.

Berbeda dengan keadaan Nabi Isa a.s., sifat
mulia dari Hadzrat Rasulullah s.a.w. telah diperlihatkan dalam ratusan
kejadian dan kenyataannya bersinar terang seperti sang surya.
Sifat-sifat seperti murah hati, welas asih, pengurbanan, keberanian,
kesalehan, kepuasan hati atas apa yang ada serta menarik diri dari
duniawi, semuanya itu jelas sekali pada sosok Nabi Suci s.a.w.
dibanding dengan Nabi-nabi lainnya. Allah yang Maha Kaya
menganugerahkan harta benda yang amat banyak kepada Hadzrat Rasulullah
s.a.w. dan beliau membelanjakan nya semua di jalan Allah dan tidak ada
sekeping mata uang pun yang digunakan untuk kepuasan diri sendiri.
Beliau tidak ada mendirikan bangunan megah atau istana untuk diri
sendiri dan tetap saja hidup di sebuah gubuk tanah liat yang tidak
berbeda dengan rumah kediaman umat yang paling miskin. Beliau berlaku
welas asih terhadap mereka yang tadinya menganiaya beliau serta
menolong mereka dengan daya sarana milik beliau sendiri. Beliau tinggal
di sebuah gubuk tanah liat, tidur di lantai serta makan dari roti
gandum yang kasar atau puasa jika tidak ada apa-apa. Beliau dikaruniai
kekayaan dunia dalam jumlah amat besar tetapi beliau tidak mau
mengotori tangan beliau dengan harta itu dan tetap memilih hidup miskin
daripada kemewahan serta kelemah-lembutan daripada kekuasaan. Dari
sejak hari pertama beliau diutus sampai dengan saat beliau kembali
kepada Tuhan beliau di langit, beliau tidak pernah menganggap penting
apa pun selain Allah s.w.t. Beliau memberikan bukti keberanian,
kesetiaan dan keteguhan hati di medan perang menghadapi ribuan musuh
dimana maut mengintai selalu, semata-mata hanya karena Allah. Singkat
kata, Allah yang Maha Agung memanifestasikan sifat-sifat mulia beliau
seperti welas asih, kesalehan, kepuasan atas apa yang ada, keberanian
dan segala hal yang berkaitan dengan kecintaan kepada Allah s.w.t. yang
padanannya belum pernah ada pada masa sebelum beliau dan tidak akan
pernah ada lagi setelah beliau.
Berkaitan dengan Nabi Isa a.s.,
sifat akhlak mulia tersebut tidak jelas dimanifestasikan karena hal
seperti itu baru akan nyata jika seseorang kemudian memperoleh kekayaan
dan kekuasaan, dan hal itu tidak ada terjadi pada diri Nabi Isa a.s.
Pada keadaan beliau ini, kedua bentuk sifat akhlak tersebut tetap
tinggal tersembunyi karena kondisi untuk manifestasinya tidak ada.
Namun keberatan yang dianggap sebagai kekurangan pada diri nabi Isa
a.s. tersebut telah ditimbali dengan contoh sempurna dari Hadzrat
Rasulullah s.a.w. karena contoh yang dikemukakan Nabi Suci s.a.w. telah
menyempurna¬kan dan melengkapi kekurangan pada Nabi-nabi lain sehingga
apa yang semula meragukan sekarang telah jadi jelas. Wahyu dan Kenabian
berakhir di sosok yang mulia ini karena semua keluhuran telah mencapai
puncaknya dalam diri beliau. Semua ini merupakan rahmat Allah s.w.t.
yang dikaruniakan kepada siapa yang dipilih-Nya. (Barahin Ahmadiyah,
sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 276-292, London,
1984).
* * *
Allah yang Maha Agung telah membagi kehidupan Nabi
kita Hadzrat Rasulullah s.a.w. dalam dua bagian, yaitu bagian pertama
yang merupakan periode kegetiran, kesulitan dan penderitaan, sedangkan
bagian berikutnya adalah ketika tiba masa kemenangan. Selama masa
penderitaan akan muncul sifat-sifat akhlak beliau yang sesuai dengan
masa tersebut, sedangkan pada waktu tiba masa kejayaan dan kekuasaan,
maka muncul akhlak mulia beliau yang tidak akan jelas nyata jika tidak
dilambari latar belakang kedigjayaan. Dengan demikian kedua bentuk
sifat akhlak mulia beliau menjadi nyata karena melalui kedua periode
masa seperti itu.
Dengan membaca sejarah tentang masa kesulitan
beliau di Mekah yang berlangsung selama tigabelas tahun, kita bisa
melihat secara nyata bagaimana beliau memperlihatkan akhlak seorang
muttaqi yang sempurna di dalam masa kesulitan yaitu meletakkan
kepercayaan sepenuhnya kepada Allah s.w.t. tanpa mengeluh sama sekali,
tidak mengendurkan pelaksanaan tugas beliau, tidak takut kepada siapa
pun, semuanya itu dilakukan sedemikian rupa sehingga para orang kafir
pun menjadi beriman karena menyaksikan keteguhan hati yang demikian
rupa dan menyadari bahwa jika seseorang tidak memiliki keimanan yang
demikian kuat, mustahil yang bersangkutan akan dapat menanggung
penderitaan tersebut dengan keteguhan hati.
Ketika tiba masa
kemenangan, kekuasaan dan kemakmuran, lalu muncul sifat akhlak mulia
Hadzrat Rasulullah s.a.w. yang lain yang berbentuk pengampunan,
kemurahan hati dan keberanian yang diperlihatkan sedemikian sempurna
sehingga sejumlah besar orang kafir lalu beriman kepada beliau. Beliau
memaafkan mereka yang telah menganiaya beliau dan memberikan keamanan
kepada mereka yang telah mengusir beliau dari Mekah serta menolong
mereka yang membutuhkan bantuan. Justru setelah menggenggam tampuk
kekuasaan di atas para musuh, beliau malah mengampuni mereka. Banyak
orang yang menyaksikan akhlak mulia beliau menyatakan bahwa hanya orang
yang muttaqi dan datang sebagai utusan Tuhan saja yang mungkin bisa
memiliki akhlak demikian. Itulah sebabnya sisa-sisa rasa permusuhan
para lawan beliau langsung menghilang. Akhlak mulia beliau juga
dinyatakan oleh Kitab Suci Al-Qur’an dalam ayat:

“Katakanlah:
“Sesungguhnya sembahyangku dan pengorbananku dan kehidupanku serta
kematianku adalah semata-mata untuk Allah, Tuhan semesta alam”“. (S.6
Al-Anaam:163).
Berarti seluruh hidup beliau telah diikrarkan bagi
manifestasi keagungan Tuhan serta memberikan kenyamanan kepada para
makhluk-Nya agar melalui kewafatan beliau mereka semua itu akan
memperoleh kehidupan.
(Islami Usulki Philosophy, Ruhani Khazain, vol. 10, hal. 447-448, London, 1984).
* * *
Yang
tertinggi dari segala kehormatan adalah kehormatan dari Hadzrat
Rasululah s.a.w. yang telah mempengaruhi keseluruhan dunia Islam.
Kehormatan beliau telah menghidupkan kembali dunia ini. Di tanah Arab
pada masa beliau, perzinahan, permabukan dan perkelahian menjadi bagian
kehidupan sehari-hari. Hak azasi manusia sama sekali terabaikan. Tidak
ada rasa welas asih sama sekali terhadap sesama umat manusia. Bahkan
hak dari Allah s.w.t. juga telah diingkari orang sama sekali. Bebatuan,
pepohonan dan bintang-bintang diimbuhi dengan sifat-sifat samawi.
Berbagai bentuk syirik berkembang luas di masyarakat. Tidak hanya wujud
manusia, bahkan alat kelaminnya (genitalia) pun juga disembah.
Seseorang yang berpikiran waras jika melihat keadaan demikian walaupun
hanya sesaat, ia akan menyimpulkan adanya kegelapan, kefasikan dan
penindasan sedang merajalela. Kelumpuhan biasanya menyerang satu sisi,
tetapi ini adalah kelumpuhan yang menghantam kedua sisi (jiwa dan
raga). Seluruh dunia terkesan sudah membusuk. Tidak ada kedamaian sama
sekali baik di muka bumi atau pun di lautan.
Hadzrat Rasulullah
s.a.w. muncul dalam abad kegelapan dan kehancuran demikian dan beliau
kemudian memperbaiki secara sempurna kedua sisi perimbangan dan
menegakkan kembali hak-hak Tuhan serta hak-hak manusia di posisinya
yang tepat. Kekuatan moril dari Hadzrat Rasulullah s.a.w. dengan
demikian bisa diukur dengan melihat kondisi masa tersebut. Penganiayaan
yang ditimpakan kepada beliau dan para pengikut beliau serta perlakuan
beliau terhadap para musuh ketika beliau telah memperoleh kemenangan
atas mereka telah menunjukkan betapa luhurnya derajat beliau.
Tidak
ada jenis siksaan lain yang belum pernah ditimpakan oleh Abu Jahal dan
kawan-kawannya terhadap Nabi Suci s.a.w. dan para sahabat beliau.
Wanita-wanita Muslim disiksa dengan cara mengikat kaki mereka
masing-masing kepada dua unta yang dihalau ke arah berlawanan sehingga
tubuh mereka terbelah dua, padahal kesalahan mereka hanya karena
beriman kepada Ke-Esaan Tuhan dan menyatakan:
لااله الاالله محمدرسو ل الله
Beliau
memikul semua penderitaan dengan keteguhan hati, tetapi pada waktu
Mekah ditaklukkan, beliau malah mengampuni para musuh tersebut dan
menenteramkan mereka dengan ucapan: “Tidak akan ada yang menyalahkan
kalian pada hari ini.”. Semua itu merupakan kesempurnaan akhlak mulia
beliau yang tidak ditemukan pada Nabi lainnya. Ya Allah turunkanlah
salam dan rahmat-Mu atas beliau dan umat beliau. (Malfuzat, vol. II,
hal. 79-80).

Alih bahasa : AQ Khalid

Jihad

February 4th, 2008 by kekerasan

banyak orang islam yang salah mendefinisikan mengenai jihad,  dengan memerangi kaum non muslim, mereka berpikir itu adalah jihad, walaupun dilakukannya harus dengan bunuh diri, dengan harapan akan masuk surga.

jihad sendiri, sebenarnya di bagi menjadi 3 bagian, yaitu jihad kecil, jihad besar dan jihad akbar (terbesar)….perang merupakan jihad yang paling kecil, untuk berperang juga ada syarat2nya, yaitu dalam keadaan yang benar2 terdesak dan nyawa diri sendiri lah yang menjadi taruhannya. seperti pada zaman Rasullullah SAW, ketika beliau  mendakwakan diri menjadi nabi dan utusan Allah, banyak kaum Quraisy yang menentang beliau, bahkan beliau di lempari dengan batu, sampai akhirnya beliau harus hijarah dari satu tempat ke tempat lainnya. akhirnya karena nyawa beliau yang menjadi taruhan, beliau di perintahkan oleh Allah SWT untuk membela diri dengan cara melawan.

yang kedua adalah jihad besar, yaitu jihad membela Islam dengan cara yang damai, dengan meninggikan akhlaq Rasullullah SAW, dan menjadi contoh untuk kaum non muslim yang lainnya, jika kaum non muslim meyerang atau memfitnah Islam, maka pembelaan yang terbaik adalah dengan cara memberikan jawaban dan argumen melalui tulisan2 yang di sebarkan melalui media…sesungguhnya arti Islam yang sebenarnya adalah DAMAI, bukan teroris.

yang terakir adalah jihad yang paling tersulit, jihad akbar…jihad akbar merupakan jihad untuk melawan diri sendiri, yaitu melawan hawa nafsu, menahan segala tindakan yang bertentangan dengan Sunahtullah….inilah jihad yang sebenarnya, yang harus dilakukan oleh semua orang muslim, contoh kita bukanlah para kyai2, akan tetapi kita mempunyai contoh yang paling mulia dan manusia yang paling sempurna yaitu nabi besar Muhammad SAW, beliau sama sekali tidak pernah mengajarkan kekerasan.

Bank Syariah

January 29th, 2008 by kekerasan

B
ank Syariah Belum Sepenuhnya Gunakan Prinsip Ekonomi Islam
     

Ditulis oleh ihsan

 
Monday, 28 January 2008

Praktek
perbankan syariah yang dilakukan oleh perbankan di Indonesia belum
seluruhnya sejalan dengan prinsip-prinsip ekonomi Islam. Hal ini
terjadi pada saat memberikan kredit kepada nasabah masih memakai
penjaminan. Hal itu diungkapkan Ekonom Universitas Islam Ibnu Khaldun,
Bogor Achyar Eldine, menanggapi perkembangan bank Syariah di Indonesia.

"Di dalam bank syariah ada prinsip profit and lose sharing,
artinya untung dan rugi sama-sama ditanggung. Tapi nyatanya, dengan
adanya jaminan atau agunan, nantinya kalau rugi, maka jaminan itu
dimiliki oleh bank, "ujarnya.

Ia menilai, konsep ekonomi Islam yang mulai ada juga belum merata, hal
ini disebabkan kondisi dan latar belakang ekonomi konvensional yang
sudah berlangsung lama di Indonesia.

Karena itu, lanjut Achyar, perbankan syariah itu masih tergantung
dengan Bank Indonesia, yang terikat dengan ketentuan-kententuan dari
Bank Dunia. Di samping itu, pihak perbankan melihat dengan menggunakan
bank syariah keuntungan yang bisa diraih lebih banyak, ketimbang bank
konvensional.

"Selama ini bank-bank syariah di Indonesia baru namanya saja, "tandasnya.

Achyar menambahkan, apabila bank syariah masih menggunakan
praktek-praktek seperti bank konvensional, ini sama saja sebuah
pembodohan terhadap umat Islam yang ingin berupaya mengikis praktek
ribawi dalam perekonomian. [eramuslim]

Duka Cita

January 27th, 2008 by kekerasan

hari ini, pada pukul 13.10, mantan orang no satu Indonesia, bapak Soeharto meninggal dunia, ada beberapa orang yang bersedih karena merasa sangat berterima kasih atas jasa2 beliau dalam pembangunan di Indonesia, akan tetapi ada juga yang merasa marah, karena beberapa kasus beliau belum terselesaikan, dari kasus HAM sampai kasus korupsi.

sebenernya Soeharto bukanlah mantan orang no satu di Indonesia, akan tetapi sampai akhir hayatnya beliau masih tetap orang no satu di Indonesia (secara tidak langsung), beliau seakan2 kebal terhadap hukum, beberapa kasus beliau hanya muncul dan tenggalam, tidak ada yang terselesaikan, para2 pemimpin dan pejabat di negeri ini, kebanyakan orang2 beliau, para pemimpin tersebut tidak dapat bergerak bebas, karena masih mempunyai rasa terima kasih terhadap Soeharto.

sekarang Soeharto telah tiada, akan kemanakah jalan yang di tempuh oleh negeri ini, mungkinkah beliau masih berkuasa (melalui anak2 beliau)?, atau mungkin pengaruh beliau sudah habis di negeri ini?

kita hanya bisa berdoa dan berusaha, sesuai dengan kapasitas yang kita miliki.

FATWA

January 20th, 2008 by kekerasan

Apa kriteria sebuah lembaga fatwa (dārul iftā’) agar bisa dipercaya?
Dalam kitab Lisan al-Arab karya Ibn Mandzur, fatwa memiliki beberapa
makna. Yang terpenting: fatwa berarti penjelasan atas persoalan yang
musykil dan jawaban atas pertanyaan yang diajukan.

Selanjutnya, ulama fikih membangun terminologi fatwa, yang
saya sarikan dari pendapat Ibn Hamadan dalam kitab Al-Furuq, bahwa
fatwa adalah penjelasan dan pemberitahuan tentang hukum syariat tanpa
ikatan kemestian–tabyīn al-hukm al-syar’i wal ikhbar bihi duna ilzām.
Dari terminologi ini, fatwa adalah penjelasan dan pemahaman, maqam-nya
bukan maqam syariat, dan perlu batas yang tegas antara fatwa dan hukum
syariat.

Yang lebih penting lagi dari penjelasan tentang fatwa
tersebut bahwa fatwa dari seseorang atau lembaga tidak mesti diikuti,
tak ada keharusan untuk menjalankan sebuah fatwa. Kesimpulan yang bisa
ditarik: sifat fatwa tidak mengikat, karena ia hanyalah penjelasan,
kadarnya jauh di bawah hukum syariat. Hukum fatwa tidak mutlak
sebagaimana hukum syariat.

Jarak antara syariat dan pendapat ini sangat disadari oleh
para imam pendiri empat mazhab yang terkenal dalam fikih: Imam Hanafi,
Maliki, Syafi’I, dan Hanbali. Menurut Imam Hanafi, "Tak seorang pun
boleh mengambil pendapat kami, tanpa mengetahui asal-usul pendapat
kami." Imam Maliki berujar, "Aku manusia biasa, bisa benar dan salah,
maka telaahlah pendapatku." Imam Syafi’i menegaskan, "Jika Anda
menemukan dalam kitabku yang bertentangan dengan sunah, ikutilah sunah
dan tanggalkan pendapatku." Imam Hanbali menyimpulkan, "Jangan
bertaklid padaku atau pada Maliki, Syafi’i, Awza’i, atau Tsauri,
ambillah asal-usul pendapat mereka."

Para
"imam-mazhab" itu sangat menyadari keterbatasan ijtihad manusiawi dan
adanya batas di antara dua wilayah: syariat dan pendapat, serta iktikad
untuk menggerus kerak fanatisme yang acap kali menutupi akal sehat
umat.

Fatwa juga tidak bisa menjadi hukum publik. Dikisahkan dalam
kitab Siyar A’lām Nubalā’(Biografi Para Tokoh yang Mulia), ketika
seorang khalifah Bani Abbasiyah meminta Imam Malik menjadikan kitabnya,
Al-Muwaththa’, menjadi hukum negara, dan menggantungkannya di Ka’bah,
dengan tegas Imam Malik menolak.

Pun sebuah fatwa harus dikeluarkan dengan penuh hati-hati.
Fatwa tak bisa dilontarkan secara amat mudah (al-tasāhul): tak semua
pertanyaan dibutuhkan fatwa, tak harus menjawab seluruh pertanyaan
gara-gara menjaga gengsi.

Menjawab semua pertanyaan adalah kegilaan. Dari hadis riwayat
Al-Baihaqi, "Barang siapa yang menjawab seluruh pertanyaan dari
manusia, berarti dia majnun. Singkatnya, mudah berfatwa hanya dilakukan
oleh orang gila."

Dengan demikian, para ulama fikih klasik yang memperbincangkan
tema ini tidak memisahkan antara pentingnya fatwa sekaligus risiko dan
dampak dari fatwa. Bagi mereka, ulama sebagai ahli waris para nabi
(waratsatul anbiyā’) memiliki posisi yang penting untuk melayani
permintaan dan menjawab pertanyaan umat.

Namun, risikonya jauh lebih besar. Dari hadis yang
diriwayatkan oleh Al-Darami, misalnya, "Orang yang paling berani
berfatwa di antara kalian berarti ia paling berani masuk neraka."
Karena itulah, fatwa hanya berasal dari mereka yang memiliki bekal ilmu
pengetahuan yang lebih. Bagi mereka yang berfatwa–dalam beberapa
riwayat hadis disebutkan "tanpa ilmu"–diancam hukuman berlapis-lapis:
"dilaknat malaikat langit dan bumi", "didudukkan di atas api neraka",
dan "menanggung dosa dari manusia yang mengikuti fatwanya".

Namun, yang terjadi saat ini bertolak belakang. Dalam konteks
politik, fatwa kekinian yang sering dimunculkan hanyalah doktrin bahwa
ulama ahli waris nabi, sedangkan kewajiban dan kriterianya dibenamkan
dalam-dalam.

Padahal
Nabi Muhammad diakui sebagai nabi karena memiliki kriteria kenabian,
yang membedakan dia dengan mereka yang hanya mengaku-ngaku nabi. Secara
otomatis, bagi mereka yang ingin dianggap sebagai ahli waris nabi,
tentu saja harus memiliki kriteria. Bila tidak, mereka hanya
mengaku-ngaku ahli waris nabi.

Percakapan tentang kriteria ulama yang mampu berfatwa inilah
yang raib dari percakapan publik. Maka tak mengherankan bila fatwa
malah menimbulkan kekacauan. Dalam kondisi ini, perlu ada pembenahan
yang harus dilakukan dimulai dari pemerintah. Dalam sepanjang sejarah,
sebuah majelis fatwa tak terpisah dari kekuasaan.

Dalam pengantar kitab Al-Majmū’ karya Imam Al-Nawawi,
ditegaskan: pemerintah memiliki kewajiban menyeleksi para mufti, bila
layak, ditetapkan, bila tidak, mesti diturunkan. Dalam istilah
sekarang, seorang mufti harus melewati uji kelayakan. Sayangnya, hal
ini tidak terjadi di negeri ini. Dalam kitab ini juga diceritakan bahwa
Imam Malik tidak pernah berani berfatwa kecuali setelah ada 70 orang
yang memberi kesaksian bahwa ia layak berfatwa.

Semestinya uji kelayakan ini diterapkan pada sebuah lembaga
fatwa di mana pun, termasuk di Indonesia. Majelis Ulama Indonesia perlu
melewati uji kelayakan, karena MUI hasil bentukan pemerintah sebagai
alat kepentingan Orde Baru, sehingga memiliki keterikatan yang sangat
kuat dengan pemerintah, baik dari sisi sejarah maupun donor dana. Dan
uji kelayakan terhadap MUI ini juga bertujuan menjaga martabat dan
integritas organisasi itu.

Prediksi ke depan, menurut saya, akan sangat mudah kalau hanya
memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa fatwa adalah pendapat
tentang hukum syariat, bukan syariat itu sendiri. Sifat fatwa tidak
mutlak dan tak mesti dituruti, mengingat masyarakat di negeri kita pun
sangat mengenal keragaman fatwa. Karena itu, tak layak apabila fatwa
dijadikan penghakiman berlebihan terhadap orang lain atau fatwa
dipandang dengan penuh fanatik, apalagi dijadikan dalih sebagai
kekerasan terhadap pihak lain.

Para
penegak hukum di negeri ini semestinya berpegang teguh pada konstitusi
negeri ini, bukan pada fatwa-fatwa keagamaan itu, yang sifatnya sama
sekali tidak mengikat. Konstitusi kita menjamin kebebasan dan keragaman
beragama di negeri ini. Maka jangan pedulikan, bahkan lemparkan
jauh-jauh, fatwa yang menolak keragaman itu.

Namun, langkah yang terberat, dan mungkin sebuah misi yang
mustahil, melakukan pembenahan dalam organisasi fatwa, terutama
menggelar ujian kelayakan bagi para mufti itu. Sebab, ketika fatwa
mereka dikritik dan dipertanyakan kelayakannya karena lebih banyak
menimbulkan mafsadah daripada maslahah–  dengan munculnya kekacauan di
mana-mana–mereka akan balik mendamprat, "Kami ahli waris para nabi."

Sumber: Koran Tempo, Jumat 18 Januari 2008

bercontoh pada Rasulullah

January 17th, 2008 by kekerasan

saat ini berita2 dimedia, banyak yang menayangkan mengenai Ahmadiyah..Ahmadiyah telah di nyatakan sesat oleh MUI, akan tetapi kemarin 15 Januari 2008, pemerintah melalui depag dan kejagung, telah membuat kesepakatan dengan Ahmadiyah yang isinya terdapat 12 butir mengenai Ahmadiyah, dan jika dilihat dari isinya, ternyata Ahmadiyah sama dengan Islam yang lain, seperti Syahadat, Shalat, rukun Islam, Iman , Haji, jadi dimanakah kesalahan Ahmadiyah dan kesesatan Ahmadiyah????

kebanyakan masyarakat hanya mengambil info hanya dari orang, "yang katanya dan katanya", akan tetapi tidak pernah menanyakan langsung ke pihak Ahmadiyah..kekerasan yang dilakukan oleh Ahmadiyah, banyak mengatas namakan umat islam seluruh Indonesia, akan tetapi banyak juga yang tidak sependapat dengan hal tersebut, menggunakan kekerasan dengan mengatas namakan agama dan umat Islam Indonesia.

padahal sejarah nabi Muhammad SAW, beliau tidak pernah menggunakan kekerasan dalam bertindak atau menyebarkan agama Islam, karena arti Islam sesungguhnya adalah DAMAI.Rasullulah berperang, dikarenakan sudah terdesak, dan nyawa taruhannya, sebelumnya beliau tidak pernah berperang, jika beliau dimusuhi di suatu tempat, maka beliau akan pindah ke tempat lain (hijrah).

umat islam mempunyai contoh teladan yang sempurna, yaitu, nabi besar Muhammad SAW, akan tetapi sangat disayangkan, "mereka2" yang mengimani Allah SWT dan Rasulullah tidak mencontohkan apa yang dilakukan oleh Muhammad SAW.

di zaman beliau saja, ada yang mendakwakan diri menjadi nabi, akan tetapi beliau tidak menggunakan pernah menggunakan  kekerasan.

sepertinya nubuatan Rasulullah mengenai, "umat ku akan terpecah menjadi 73 golongan, akan tetapi hanya 1 yang benar, yaitu yang mengikuti aku", mulai tergenapi.

kata bijak

December 10th, 2006 by kekerasan

Anda,

Tidak dapat menguatkan yang lemah dengan melemahkan yang kuat Tidak dapat membantu orang-orang kecil dengan mencabik orang besar

Tidak dapat menolong orang miskin dengan menghancurkan orang kaya

Tidak dapat mengangkat penerima upah dengan menekan pembayar upah

Tidak dapat terhindar dari masalah dengan menghasilkan penghasilan lebih besar

Tidak dapat memajukan rasa persaudaraan dengan mendorong kebencian antar ras

Tidak dapat menciptakan keamanan di atas uang pinjaman

Tidak dapat membangun karakter dan semangat dengan merampas inisiatifdan kemerdekaan

(Abraham Lincoln)