Umat Islam Terpecah 72 Golongan
Sunday, March 30th, 2008Imam Mahdi dan Al-Masih Sudah Sangat Diperlukan
Seorang berkebangsaan Arab bertanya kepada pemimpin Ahmadiyah di London.
Pertanyaannya adalah, umat Islam menjadi terpecah disebabkan kedatangan
Mirza Ghulam Ahmad dan Ahmadiyah. Al-Quran menyebutkan, umat Islam
adalah satu Ummah dan Al-Quran adalah kitab Syariah yang terakhir dan
sempurna, dan karenanya mengapa diperlukan lagi adanya nabi?
Penjelasan dan jawaban Pimpinan Ahmadiyah Hazrat Mirza Tahir Ahmad sebagai berikut:
Sebelum
membahas pertanyaan mengapa diperlukan adanya nabi, marilah kita
kembali sebelum ada seseorang mendakwakan diri menjadi nabi ummati.
Sekarang mari kita bertanya apakah ummah memang satu sebelum ia
men-dakwakan diri. Bukankah Al-Quran dan hadits yang ada sama dengan
Al-Quran dan hadits yang ada sejak Rasulullah Saw., Namun ummah telah
terpecah menjadi 72 golongan, apakah Anda menyebutnya satu ummah atau
memilih untuk menyebutnya 72 ummah, sepenuhnya terserah kepada Anda,
namun yang benar adalah bahwa telah terjadi perpecahan dan perpecahan
itu terjadi bukan disebabkan oleh adanya nama-nama melainkan disebabkan
oleh adanya perbedaan pandangan dan konsep. 72 golongan Islam memiliki
perbedaan pandangan yang sedemikian rupa mengenai Al-Quran yang sama
dan mengenai hadits yang sama sehingga orang yang memiliki pikiran
jernih, mereka (72 golongan) tidak lagi dapat disebut satu ummah.
Hari
ini pun, lupakanlah untuk sementara waktu mengenai Ahmadiyah dan apa
missinya, marilah kita membahas pandangan golongan Syiah. Mereka
beriman kepada Al-Quran dan mereka beriman kepada hadits Rasulullah
Saw. Namun mereka pun berkeyakinan bahwa tiga khalifah Islam yang
pertama adalah perampas hak orang lain dan bukan khalifah yang benar.
Rasulullah Saw., menurut orang-orang Syiah, setelah beliau wafat hanya
meninggalkan sepuluh orang suci. Sisanya semuanya munafik dan mereka
yang Anda sebut dan kami juga meyakininya sebagai khalifah yang benar,
menurut kepercayaan Syiah adalah para Raisul Munafiqin (Pemimpin
orang-orang munafik). Sekarang, tuduhan ini diterima baik oleh
orang-orang Muslim dan inilah yang mereka sebut sebagai satu Islam.
Sekarang
mari kita mempelajari sekte Deobandi. Mereka meyakini bahwa sekte
Barelwi adalah orang-orang musyrik. Sekte Deobandi memegang kepercayaan
bahwa orang-orang yang berkeyakinan bahwa Rasulullah Saw. memiliki
kehidupan yang abadi dan maha hadir seperti halnya Allah Ta’ala adalah
orang-orang musyrik tingkat pertama dan tidak dapat diterima di dalam
lingkungan Islam. Salah seorang dari pemimpin Deobandi memberitahukan
kepada kami dan berkeras bahwa kita harus percaya bahwa semua
orang-orang Barelwi setelah mereka meninggal, ketika mereka datang ke
‘Khausa Kausar’ mereka akan diperintahkan untuk pergi dan meninggalkan
tempat itu seperti seseorang yang mengusir dan menghalau anjing pergi.
Rasulullah Saw. menurut mereka, akan berkata kepada orang-orang
Barelwi, “Pergilah kalian, kalian pikir diri kalian Muslim, tetapi aku
mengetahui bahwa kalian bukanlah orang Muslim.”
Sekarang
sejauh hubungannya dengan orang-orang Barelwi yang juga termasuk ke
dalam ‘ummah yang satu’ dan kita juga beriman kepada Al-Quran yang sama
dan hadits yang sama, namun mereka berpendirian bahwa semua orang-orang
Wahabi, golongan yang menyebut dirinya mayoritas di Saudi Arabia,
Ahli Hadits dan Deobandi semuanya adalah pakka kafir (kafir mutlak),
sedemikian rupa, sehingga jika seseorang tidak percaya bahwa Golongan
Wahabi, Ahli Hadits dan Deobandi kafir, maka ia sendiri menjadi kafir.
Satu dari pemimpin terkenal Barelwi menjelaskan dalam bukunya ‘Hisamtil
Harmain’, bahwa jika kalian sembahyang di belakang orang Deobandi,
Wahabi, Ahli Hadits, Chakralwi, Syiah, Qadiani, dan lain-lain. Kalian
akan menjadi kafir dan jika kalian mengijinkan mereka sembahyang di
belakang kalian, kalian pun akan menjadi kafir. Dan jika kalian menikah
dengan mereka dan jika mereka menikah dengan kalian, kalian akan
menjadi kafir. Sedemikian rupa, sehingga ia menjelaskan jika mereka
menikah di antara mereka sendiri pun, pernikahan itu menjadi tidak syah
menurut hukum Islam.
Jadi
demikianlah keadaan yang ada sebelum kedatangan Almasih yang
dijanjikan, Mirza Ghulam Ahmad, dan sekarang pun masih demikian. Jadi
marilah kita kemukakan lagi pertanyaannya. Apakah itu yang disebut satu
Islam? Apakah demikian keadaannya pengikut dan anggota Ummah yang satu?
Tahukah Anda apa yang terjadi di Pakistan
setelah kami (orang-orang Ahmadi) dideklarasikan sebagai non Muslim dan
setelah kami dirampas haknya untuk me-nyebut diri kami Muslim. Apakah
Anda sadar bahwa telah terjadi peperangan antara Sekte Barelwi dan
Sekte Deobandi dan mereka menyebarluaskan pamflet-pamflet yang isinya
masing-masing saling memfatwakan kafir dan bukan Islam.
Jadi
jika demikianlah keadaan Ummah yang satu yang menjadi pecah oleh
kedatangan Masih Mau’ud a.s. maka tidak ada masalah yang terjadi.
Mengapa Jemaat Ahmadiyah harus nampak seperti golongan yang paling
tidak dapat diterima di antara umat Islam.
Sekarang marilah kita bahas pertanyaannya secara prinsip.
Al-Quran
adalah satu, dan tanpa di-ragukan telah sempurna. Hadits Rasulullah
Saw. adalah final dan kedua-duanya terus menerus menjadi Kalimat yang
harus diterima, yang harus diimani, yang harus diikuti sampai hari
kiamat. Namun Rasul kita, meskipun beliau mengetahui hal ini bahwa
Kitab Suci sudah sempurna dan beliau adalah Nabi yang terakhir hingga
hari kiamat, beliau sendiri menubuatkan bahwa akan tiba masanya ketika
Imam Mahdi akan datang dari sisi Allah dan diangkat oleh Allah.
Sekarang marilah kita ajukan satu pertanyaan yang tulus – mengapa
diperlukan Imam Mahdi dan mengapa Imam Mahdi harus diterima kita semua,
sementara Al-Quran sudah sempurna; hadits sudah ada dan isi dari
kitab-kitab ini sudah final. Namun menurut Rasulullah Saw., kalian
memerlukan Imam Mahdi dan Anda sedang menunggu-nunggu Imam Mahdi.
Mengapa kita memerlukan Imam Mahdi dan apakah kedudukan Imam Mahdi
nantinya? Saya yakin Anda tidak pernah berpikir ke arah ini. Jika Anda
memikirkannya sekarang, Anda akan terkejut bahwa kepercayaan Anda dan
kepercayaan kami secara mutlak sama. Tidak setitikpun ada perbedaan
dapat dibuktikan antara kepercayaan kami dan Anda. Anda percaya bahwa
Imam Mahdi akan ditunjuk Allah Ta’ala dan tidak akan dipilih oleh
masyarakat Islam. Tidak ada seorangpun Muslim yang percaya bahwa Imam
Mahdi tidak akan dipilih Allah tetapi akan dipilih oleh masyarakat
luas. Jika ada seorang Muslim yang berkepercayaan demikian, seluruh
ulama dunia akan memfatwakan bahwa orang itu kafir, karena ia memegang
keyakinan yang bertentangan dengan seluruh umat Islam. Jadi Imam Mahdi
adalah satu pribadi yang akan datang, jika hingga sekarang ia belum
datang, yang akan langsung diangkat dan ditunjuk oleh Allah. Namun
demikian, ini adalah bagian dari keyakinan kita. Bagian selanjutnya
dari keyakinan ini adalah bahwa siapa saja yang menolaknya akan menjadi
kafir. Apakah pernyataan ini tidak benar? Seluruh ummah memiliki
keyakinan terhadap dua hal ini, kecuali Chakralwi dan Ahli Hadits,
tetapi pada saat ini saya tidak membahas mereka secara spesifik. Saya
mengarahkan hal ini kepada ummah di luar mereka. Mereka berkeyakinan,
Imam Mahdi akan ditunjuk langsung oleh Allah sendiri dan tidak akan ada
pemilihan. Mereka juga percaya Imam Mahdi, sekali beliau ditunjuk maka
ia akan menjadi imam seluruh ummah dan untuk sekalian alam dan siapa
saja yang mendustakan beliau dan siapa saja yang menentang beliau, akan
menjadi keluar dari Islam. Sekarang, dengan mengingat dua hal penting
ini di dalam pikiran kita, sebutkan kepada saya (jika ada) contoh satu
orang, siapa saja, setelah memiliki dua sifat ini dan dua potensi ini,
tetapi ia bukan nabi. Sesungguhnya, tidak ada seorang manusia pun di
dunia ini datang membawa dua kualitas ini tetapi bukan nabi.
Sesungguhnya, tidak seorangpun di dalam sejarah semua agama-agama yang
dapat disebutkan bahwa ada seseorang ditunjuk langsung oleh Allah namun
untuk beriman kepadanya tidak diwajibkan. Bacalah ayat Al-Quran yang
membahas mengenai iman dimana dijelaskan kepada siapa kalian harus
beriman – Amantu billahi wa malaikatihi wa kutubihi wa rusulihi wa bil
yaumil akhiri wa bil qadri khairihi wa syarrihi. Dari enam rukun
tersebut hanya ada satu yang berhubungan dengan manusia dan itu adalah
nabi-nabi. Jadi dari antara manusia, kecuali kepada nabi-nabi, Al-Quran
tidak membebankan kewajiban kepada Anda untuk beriman kepada siapa pun,
hanya kepada para nabi Allah kita harus beriman. Jadi menurut Al-Quran,
hanya kepada nabi-nabi Allah wajib bagi kita beriman, kalau tidak kita
akan menjadi kafir. Oleh karena itu, dari antara manusia kecuali kepada
para nabi kita tidak diwajibkan untuk beriman kepada siapapun. Carilah
kalau ada di dalam Al-Quran ayat-ayat yang mewajibkan kepada kita untuk
beriman kepada seseorang selain kepada para nabi. Namun pandangan yang
umum diterima ini Anda sendirilah menisbahkan-nya kepada Imam Mahdi.
Siapa saja yang ditunjuk langsung oleh Allah maka dia adalah seorang
nabi. Jadi Anda terus mengatakan bahwa Anda berkeyakinan tidak akan
pernah datang nabi lagi meskipun seorang nabi pengikut, sementara Anda
beriman kepada Imam Mahdi dan yakin bahwa Allah sendiri yang akan
menunjuk dan mengangkatnya. Dengan demikian Anda sesungguhnya menentang
keyakinan Anda sendiri. Sebenarnya, begitu Anda percaya kepada
kedatangan Imam Mahdi berarti Anda percaya kepada kedatangan seorang
nabi ummati. Jadi sekarang hanya tinggal pertanyaan tentang siapakah
orangnya. Sejauh yang berkenaan dengan kepercayaan, setiap orang yang
jujur dan benar pasti akan setuju dan menerima bahwa konsep mengenai
Imam Mahdi adalah sesuai sekali dengan konsep yang kami sebut sebagai
suatu kenabian ummati. Baik Anda menyebutnya nabi pengikut atau bukan,
baik Anda menyebut-nya manusia atau bukan, hal itu tidaklah penting.
Yang penting adalah definisinya. Jika Anda memanggil manusia anjing, ia
akan tetap manusia. Jika seseorang memiliki kualitas Imam Mahdi maka ia
akan tetap menjadi Nabi, bagaimanapun Anda me-manggilnya, meskipun jika
Anda tidak beriman kepadanya, ia akan tetap seorang nabi.
Kemudian
Anda percaya, Nabi Isa akan datang untuk kedua kalinya. Dalam
kedudukannya sebagai apa ia akan datang lagi? Akankah ia meninggalkan
pangkat kenabiannya di atas langit, jika benar ia akan turun dari
langit? Tentu saja tidak. Karena semua ulama Muslim percaya dan
memfatwakan bahwa siapa saja yang percaya dan mengatakan ketika ia akan
datang lagi ia akan meninggalkan pangkatnya di langit dan akan datang
sebagai seorang biasa, adalah seorang pendusta dan berada di luar dan
keluar dari batas-batas Islam. Ini adalah ke-percayaan yang umum
dipegang setiap ulama Islam, baik ia Ahmadi maupun bukan. Dasar dari
keyakinan ini adalah, Rasul kita Saw. sendiri menubuatkan, ketika Nabi
Isa a.s. datang lagi ia akan datang sebagai seorang nabi. Di dalam
kitab Hadits Muslim Rasulullah Saw. sendiri menyebut Nabi Isa empat
kali bahwa beliau adalah Nabiyullah pada kedatangannya yang kedua kali.
Dengan demikian, sesuai dengan Hadits Muslim, Anda juga percaya Almasih
akan datang dan ia datang sebagai seorang NABI… Sekarang, bersikaplah
sebagai manusia yang memiliki akal yang waras dan bersikap jujur. Anda
mengeluarkan kami dari Islam karena kami percaya Almasih Mau’ud a.s.
adalah seorang Nabi, sementara Almasih yang kalian tunggu-tunggu itu
sendiri adalah Nabi. Jadi jika Masih Mau’ud a.s. berkata, ‘Aku bukan
Nabi. Rasulullah Saw. akan memfatwakan Masih Mau’ud seorang pendusta,
karena beliau Rasulullah Saw. akan bersabda, ‘Tidakkah engkau membaca
Hadits Muslim? Saya sendiri telah menyebut Almasih yang akan datang di
dalam umat ini sebagai Nabi.’ Jadi jika ada seseorang mendakwa-kan diri
bahwa ia adalah Almasih yang ditunggu-tunggu dan ia bukan Nabi, maka ia
pasti seorang pendusta. Anda tidak mungkin membuktikannya lain. Namun,
menurut akal Anda, jika ada seseorang mendakwakan diri sebagai Almasih
dan berkata bahwa ia Nabi, ia juga seorang pendusta. Jadi Almasih yang
bagaimanakah yang dapat datang ke dalam umat ini. Dari satu sudut
pandang ia adalah seorang pendusta, karena ia berkata bahwa ia adalah
sang Almasih dan seorang Nabi tapi Anda mengatakan bahwa pintu kenabian
telah berakhir dalam bentuk apapun. Dan jika ia berkata, baiklah, bahwa
ia adalah Almasih namun bukan Nabi maka Anda akan mengatakan bahwa ia
adalah pendusta, karena Rasulullah Saw. mengatakan bahwa Almasih yang
akan datang adalah seorang Nabi.
Jadi
apa solusinya? Satu-satunya solusi yang dikemukakan ulama-ulama Muslim
kepada saya bahwa ia adalah seorang Ummati, benar seorang Nabi tetapi
nabi ummati.
Dengan
kedudukannya sebagai Nabi Ummati ia tidak menentang kedudukan Nabi
Muhammad Saw. sebagai Nabi penutup – dan inilah sebenarnya apa yang
kami yakini. Kami tidak memegang kepercayaan tentang bentuk kenabian
baru (Kenabian yang datang di luar umat Islam dan membawa syari’at
baru. Kami memiliki keyakinan tentang seorang Nabi Ummati, Nabi yang
berada di bawah syari’at nabi sebelumnya, sebagaimana dinubuatkan di
dalam Al-Quran, Surah An-Nisa (3:70-71):
“Dan
barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka mereka akan
berada di antara mereka yang Allah Ta’ala telah memberi nikmat, yaitu,
nabi-nabi, syuhada-syuhada, shiddiq-shiddiq, dan orang-orang shalih,
dan betapa mereka itu sebaik-baiknya sahabat. Ini adalah karunia dari
Allah; dan cukuplah bagi Allah Yang Maha Mengetahui.’
Jadi
siapa saja yang akan menerima ganjaran Rasulullah Saw. menurut ayat
ini, ia harus tunduk kepada Rasulullah Saw.. Begitu ia menjadi
pengikut, menurut ayat ini tidak akan ada ganjaran yang akan
dimahrumkan darinya, baik yang pertama maupun yang terakhir, karena
semua ganjaran itu disebutkan secara berurutan, yaitu, nabi-nabi,
shidiq-shidiq, syuhada dan solihin – jadi kepercayaan Anda dan
kepercayaan kami mengenai kenabian benar-benar sama. Terapkan hal yang
sama kepada Imam Mahdi, yang Anda yakini akan datang; maka keyakinan
kami mengenai Imam Mahdi, dan keyakinan Anda benar-benar sama. Ia
haruslah seorang nabi pengikut. Terapkan sekarang kepada Almasih yang
dijanjikan. Sekali lagi di sini pun kepercayaan kita mengenai Almasih
yang dijanjikan seratus persen sama. Jadi, hanya menyebut seorang nabi
bukan nabi, tidak bisa membebaskan Anda dari dosa atau apapun,
sesungguhnya hal ini malah menjadikan Anda seorang yang berdosa, karena
beriman kepada seseorang yang akan memiliki kedudukan tertentu; Anda
tetap tidak setuju untuk memanggil-nya dengan kedudukan itu yang Anda
sendiri meyakininya – ini adalah satu pelanggaran. Dan kami tidak
melakukan pelanggaran itu; kami bersikap jujur, kami berbicara
terus-terang. Jadi pertanyaannya sederhana sekali, yakni, Apakah Imam
Mahdi sudah datang atau belum. Dan ini adalah pertanyaan yang adil.
Anda me-manggil kami non-Muslim karena kami berkeyakinan kepada seorang
nabi baru. Jika kami menjadi kafir karena hal ini, karena keyakinan
Anda sama dengan kami, maka setiap orang dari antara kita adalah kafir,
tidak ada seorang Muslim pun lagi yang tertinggal. Jadi, ini adalah
satu aspek yang harus Anda ingat selalu.
Aspek
yang kedua adalah Al-Quran sudah sempurna. Sesungguhnya Al-Quran itu
tidak berubah. Namun demikian, maknanya telah berubah. Ayat yang sama
telah ditafsirkan begitu berbeda seolah-olah berasal dari kitab yang
berbeda. Contohnya, Anda mungkin pernah men-dengar mengenai kontroversi
apakah nabi kita Rasulullah Saw. Nur atau Basyarnur atau manusia. Dan
kata yang sama di-pergunakan oleh kedua belah pihak untuk mendukung
pendirian mereka. (Surah 18:111).
“Katakanlah,
‘Sesungguhnya aku adalah manusia seperti kamu; tetapi aku telah
menerima wahyu bahwa Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa. Maka barangsiapa
yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah ia mengerjakan
amal shaleh, dan tidak menyekutukan sesuatu kepada Tuhannya.’”
Sekte
Barelwi menyimpulkan ayat ini bahwa Rasulullah Saw. bukanlah manusia
dan Golongan Deobandi menyimpulkan beliau adalah Basyar. Ayat-ayat yang
sama di dalam Al-Quran telah ditafsirkan dengan cara yang begitu
berbeda sehingga membuat orang terkejut dan terkesima, tidak tahu apa
yang harus diperbuat dan apa yang tidak boleh dilakukan. Contohnya,
Golongan Syiah menyimpul-kan dari ayat (9:40) makna yang sama sekali
berbeda:
“Jangan khawatir, sesungguhnya Allah bersama kita.”
Mereka
berkata karena Hazrat Abu Bakar r.a. berada dalam keragu-raguan, maka
Rasulullah Saw. harus bersabda, menurut Allah, la Takhzan, dan hal ini
memperlihatkan bahwa beliau (naudzubillah) adalah seorang munafik. Dan
orang yang lain lagi mengatakan bahwa betapa indahnya ayat ini
mendukung Abu Bakar r.a.. Rasulullah Saw. bersabda kepada beliau bahwa
ia ada di antara mereka. “Allah tidak saja ada bersama-sama denganku
tetapi bersama engkau juga.”
Makna
yang mana yang Anda sukai, boleh Anda terima, tetapi makna yang kedua
adalah pegangan kami. Sejauh hubungannya dengan kontroversi itu, ia
terus berjalan. Jadi adanya satu Kitab tidak menutup kemungkinan adanya
perbedaan pendapat dalam hal-hal yang fundamental. Dan perbedaan itu
terjadi pada hal-hal yang sungguh memuakkan. Contohnya, ada ayat di
dalam Al-Quran, menjelaskan situasi bagaimana Rasulullah Saw.
diperintahkan untuk menikahi istri anak angkatnya yang telah
diceraikan, yaitu perceraian Hazrat Zaid. Zaid adalah anak angkat
Rasulullah saw. Dan wanita itu telah bercerai dari Zaid. Al-Quran
menjelaskan bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang ada di dalam hatimu.
Dan Allah mengharuskan beliau menikah (Surah 33:38-39).
Tahukah
Anda bagaimana para mufasiirin terdahulu menafsirkan ayat ini? Bacalah
Tafsir Itqan, bacalah Kitab Jalalain, bacalah kitab tafsir lainnya dan
jika Anda memiliki kecintaan yang sejati kepada Rasulullah Saw. Anda
akan muak membaca apa yang mereka katakan. Mereka mengatakan bahwa
Allah Ta’ala berkata kepada Rasulullah Saw. yakni ketika beliau melihat
Hazrat Zainab, sebetik cinta muncul di dalam hati beliau dan khawatir
jika orang lain mengetahui hal itu, dan beliau merasa malu. Tetapi
Allah telah mengetahuinya, karena Dia Maha Mengetahui. Jadi mengetahui
ke-adaan hatinya, Dia mengijinkan Rasulullah untuk menikah dan berkeras
agar beliau menikah. Suatu hal yang sungguh memalu-kan untuk dikatakan.
Mereka berkata dan mereka membesar-besarkan hal ini dengan menggunakan
hadits-hadits palsu bahwa Rasulullah Saw. suatu ketika datang ke rumah
Hazrat Zaid dan tanpa mengetuk pintu beliau langsung masuk. Hazrat
Zainab waktu itu dalam keadaan di mana beliau tidak dapat dengan segera
menutupi tubuh beliau dan Rasul kita Saw. (nauzubillahi min dzalika)
melihatnya dalam keadaan seperti itu dan jatuh cinta. Hal ini bisa saja
terjadi pada diri ulama-ulama biasa, tapi tidak mungkin terjadi pada
diri Nabi kita Rasulullah Saw.. Rasulullah saw. sendiri bersabda (Surah
24:28-29):
“Wahai
orang-orang yang beriman! Jangan-lah kamu memasuki rumah yang bukan
rumahmu sendiri sehingga kamu meminta izin dan mengucapkan salam kepada
peng-huninya. Hal itu lebih baik bagi kamu supaya kamu memperhatikan.
Dan jika kamu tidak menemukan siapapun di dalamnya maka janganlah kamu
memasukinya sehingga kamu diberi izin. Dan jika dikatakan kepada-mu
‘kembalilah,’ maka kembalilah; hal itu lebih suci bagimu. Dan Allah
Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Janganlah
masuk pintu rumah siapa saja tanpa memberi salam dan minta izin. Beliau
diajarkan mengenai hal ini oleh Allah Ta’ala sendiri, sebagaimana kita
baca di dalam surah As-Shaf (61:3-4):
“Hai
orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu
lakukan? Sesungguhnya sangat dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan
apa yang tidak kamu kerjakan.”
Para
mufasir ini mengatakan Rasulullah Saw. melarang orang lain untuk masuk
rumah meskipun keluarganya sendiri tanpa mengucapkan dan meminta izin
lebih dulu, namun beliau sendiri melaku-kan hal demikian, dan ketika
beliau melihat Hazrat Zainab, beliau jatuh cinta. Betapa memalukan –
beliau adalah wujud yang begitu bertaqwa; tidak mungkin pikiran kotor
seperti itu memasuki hati beliau. Rasulullah Saw. sendiri yang telah
berkata bahwa setan beliau telah menjadi Muslim.
Sekarang
marilah kita lihat Masih Mau’ud a.s., yang telah kami terima dan yang
kepadanya Anda merasa bangga memanggil beliau dengan nama buruk dan
menyebut beliau seorang pendusta, bagaimana beliau menafsirkan ayat
tersebut. Beliau bersabda bahwa Allah mengetahui apa yang ada di dalam
hati Rasulullah Saw. dan mengetahui bahwa penderitaan ini begitu
menghimpit hati beliau. Beliau merasa sedih dan begitu merasa sedih
mengenai ide menikahi istri anak angkatnya yang telah diceraikan. Namun
Allah Ta’ala memberitahu Rasulullah Saw. agar mem-berikan contoh dan
untuk memberitahukan kepada masyarakat bahwa kebiasaan adopsi sejak
saat ini telah dicampakkan untuk selamanya. Dan Allah berfirman bahwa,
meskipun ini menjadi pengorbanan dari pihak beliau, beliau maju terus
dan melaksanakannya.
Jadi
cara yang paling tepat untuk menilai Masih Mau’ud a.s. adalah dengan
cara mempelajari buku-buku beliau dan menemukan, di mana telah terjadi
perbedaan pendapat di antara golongan dan para ulama ummah, jika beliau
mem-berikan keputusan, apakah menurut pikiran dan kecenderungan Anda
sendiri, keputusan beliau lebih tepat dari yang lain atau tidak. Jika
Anda membaca dan mempelajari Hazrat Masih Mau’ud [Mirza Ghulam Ahmad
a.s.] dengan cara seperti ini hanya setelah itu Anda akan mengerti
makna kedatangannya, dan hanya setelah itu Anda akan mengerti makna
kata “Hakaman Adalan” Masih Mau’ud a.s. duduk di atas kursi pemberi
keputusan dan seluruh keputusan beliau adalah benar. Itulah
keindahannya dan itulah alasan mengapa beliau harus datang. Beliau
datang tidak untuk menambah-nambah Al-Quran, tetapi untuk mengembalikan
apa yang telah dihilangkan dalam penafsiran Al-Quran. Inilah arti dari
Hakaman Adalan dan inilah dasarnya mengapa beliau harus datang.
Jadi, ada begitu banyak contoh yang lain yang dapat dikutip sebagai bukti dan mendukung keyakinan saya.
Adalah
Allah yang telah memutuskan di antara kita dan Anda sejak berdirinya
Jemaat Ahmadiyah. Setiap kali peng-aniayaan ditimpakan kepada Ahmadiyah
dan orang-orang Ahmadi, dan setiap kali setelah adanya ujian
penganiayaan, Ahmadiyah maju bertambah besar dan luas, dan tidak pernah
berkurang. Jadi, semakin besar penganiayaan semakin besar kabar suka
diberikan kepada kami. Kami tidak merasa takut sedikitpun. Apa yang
terjadi pada tahun 1933 dan 1934 serta 1953 dan apa yang terjadi tahun
1974. Setelah setiap penganiayaan ini Jamaah Ahmadiyah keluar sebagai
pemenang dalam arti Jamaah ini menambah pengikut-nya lebih banyak dan
lebih cepat dari sebelumnya. Jamaah Ahmadiyah mem-bengkak dalam jumlah,
kedudukan dan pengaruh. Jadi, satu Jamaah yang memiliki takdir seperti
ini, adalah takdir yang hanya merupakan takdir dari nabi-nabi yang
benar. Bagaimana mungkin Jamaah seperti itu ditakuti-takuti oleh
mayoritas? Apa dan siapakah yang mayoritas itu? Jika mayoritas itu
tidak benar dalam pandangan Allah, apa artinya mayoritas seperti itu.
Banyak mayoritas seperti itu, ditolak Allah sebelumnya. Setiap nabi
telah disebut dan difatwakan kafir oleh masyarakat mayoritas di
masanya. Ambil satu contoh jika ada nabi yang tidak difatwakan
pen-dusta oleh mayoritas di zamannya. Sekarang-pun Islam tidak
menduduki kedudukan mayoritas. Sekarangpun, mereka yang me-nentang
Rasulullah Saw. dan memfatwakan beliau sebagai pendusta, menduduki
mayoritas yang besar dibandingkan dengan mereka yang beriman kepada
beliau. Jadi me-mutuskan dengan suara mayoritas, hendaklah Anda
terlebih dahulu meninggalkan Islam baru menyerang Ahmadiyah, karena
mayoritas masyarakat dunia menentang Islam. Bahkan golongan Atheis
lebih besar dari Islam, dan paling tidak orang-orang Atheis bersatu
dalam keyakinan mereka, sementara umat Islam tidak bersatu dalam
keimanan mereka. Semua golongan Islam bertentangan satu sama lain
secara diametrikal, sehingga jika satu golongan benar, golongan yang
lain pasti salah, dan Anda telah berdusta, saya mohon maaf untuk
mengatakannya, dengan menyebut mereka Muslim sepanjang zaman. Hanya
dalam melakukan permusuhan dan peng-aniayaan terhadap Ahmadiyah, Anda
duduk bersama melupakan semua perbedaanperbedaan kalian yang sangat
fundamental, dan mengeluarkan fatwa bahwa semua orang adalah Muslim
(kecuali Ahmadiyah). Siapa saja menyebut Abu Bakar Raisul Munafikin,
juga Muslim. Siapa saja menyebut umat ini kafir sekafir-kafirnya, juga
Muslim. Siapa saja yang percaya pada kekekalan Rasulullah Saw., juga
Muslim. Siapa saja yang berkata bahwa mereka yang percaya kepada hal
itu mereka kafir dan penyembah berhala, juga Muslim. Mereka yang ruku’
dan sujud di kuburan, juga Muslim dan mereka yang mengatakan bahwa itu
sebenarnya adalah penyembahan berhala, juga Muslim.
Jadi,
betapa indahnya agama Islam. Segala sesuatu boleh masuk dan semuanya
dapat diterima, hingga yang saling bertentangan secara diametrikal dan
berbeda secara fundamental. Jika itu yang dikatakan Islam, ia bukanlah
agama; karena tidak memiliki kata hati; dan tidak memiliki rasa
kemanusiaan. Jika seseorang itu memiliki jiwa kemanusiaan dan jujur,
hendaklah ia bersikap jujur kepada diri-nya sendiri. Anda memiliki hak,
tentu, untuk menyebut kami non-Muslim. Jika Anda yakin, tapi panggil
juga yang lain sebagai non-Muslim, karena perbedaan mereka dengan Anda
lebih besar dalam sensitifitas dan bobotnya, daripada perbedaan Anda
dengan kami.
AMA, 26.07.00, A Question Answered, Darut Tabligh Islami Publication, P.O. Box 4195 Cape Town .