Nabi palsu tidak akan mendapat kelonggaran

Sudah merupakan kaidah Ilahi bahwa Tuhan
tidak akan memberikan kelonggaran atau peluang kepada seorang nabi
palsu. Orang seperti itu akan langsung dicengkeram dan dihukum.
Berkaitan dengan itu maka kita patut menghormati dan menerima sebagai
suatu kebenaran semua mereka yang pernah menyatakan diri sebagai Nabi
pada masa apa pun, yang pengakuannya telah diteguhkan dan agamanya
telah berkembang meluas dalam jangka waktu panjang. Misalnya pun kita
menemukan kesalahan dalam kitab suci atau agama mereka, atau juga
kelakuan yang salah di antara para penganutnya, jangan sampai kita
menimpakan kesalahan tersebut di pundak para pendiri agama-agama
tersebut. Pelencengan isi kitab suci bisa saja terjadi, begitu pula
munculnya kesalahan penafsiran, tetapi tidak mungkin terdapat orang
yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah s.w.t. dengan mengaku
sebagai seorang Nabi, menyatakan ucapan karangannya sendiri sebagai
firman Tuhan tetapi Dia tetap memberikan peluang atau kelonggaran
kepadanya sebagai seorang muttaqi dan mengaruniakan kepadanya berkat
berupa penerimaan dari orang banyak. (Tohfah Qaisariyah, sekarang
dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 12, hal. 258).

* * *

Mungkinkah
kepada seorang pendusta diberikan peluang untuk menyebar-luaskan
kedustaannya sebagaimana Allah s.w.t. menganugrahkan kepada para
penerima wahyu hakiki? Tidakkah Tuhan telah menyatakan bahwa mereka
yang berdusta mengaku telah menerima wahyu dan para pendusta akan
dicengkeram oleh-Nya? Kitab Taurat menyatakan kalau nabi palsu akan
terbunuh dan Injil pun mengemukakan bahwa seorang pendusta akan segera
dipunahkan dan pengikutnya bertemprasan dikocar-kacirkan.

Apakah
ada satu saja contoh bahwa seorang pendusta yang mengaku sebagai
penerima wahyu yang diberikan peluang sepanjang jangka waktu yang telah
diberikan kepadaku sejak pernyataan yang aku ajukan bahwa aku adalah
seorang yang menerima wahyu Ilahi? Jika memang ada, silakan ajukan.

 
Aku
menyatakan dengan sesungguhnya bahwa sejak dunia terkembang belum
pernah ada kejadian demikian. Aku tidak ada mengatakan bahwa seorang
penyembah berhala, atheis atau seorang yang mengaku sebagai tuhan,
tidak akan berumur panjang, karena kesalahan-kesalahan seperti itu baru
akan dihisab nanti di akhirat. Yang aku nyatakan disini adalah mereka
yang berdusta mengaku sebagai penerima wahyu Ilahi, mereka inilah yang
akan dicengkeram dan umurnya akan pendek. Kitab Taurat, Injil mau pun
Al-Qur’an membenarkan hal itu, sebagaimana halnya juga penalaran. Lawan
yang mana pun tak mungkin bisa mengemukakan contoh meski satu yang
bertentangan dengan sejarah. (Ayyamus Sulh, Qadian, Ziaul Islam Press,
1899; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 14, hal. 267-268,
London, 1984).

Leave a Reply